Musik dan Al-Qur’an Tak Bisa Berada di Satu Hati

FontCandy (8)

MUSIK DAN AL-QUR’AN TAK BISA BERADA DI DALAM SATU HATI

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Seperti biasa, saya bukan ustadz. Saya hanya (mantan) pemusik yang suka menulis. Semoga Allah meluruskan niat saya menulis hanya karena-Nya, dan bukan yang lain. Tulisan ini pun hanya pengingat bagi saya, atau siapapun, yang pernah bertanya seperti ini:
Masa sih musik haram?
Sesuatu yang indah seperti musik koq dilarang?
Dampak buruknya memangnya apa?
Manfaatnya kan banyak, seperti musik klasik misalnya?

Tentu saja banyak dalil dan pendapat mengenai ini. Begitupun perbedaan pendapat dalam menyingkapi misalnya: musik islami, atau lagu anak, dsb. Saya tidak akan membahas itu. Dalam tulisan ini saya akan lebih banyak menceritakan pengalaman saya sendiri sebagai seseorang yang pernah menjadikan musik sebagai kebutuhan hidup. Bagaimana musik pernah menjadi seperti air bagi hati saya, yang pasti membuat hati “kehausan” jika satu hari saja tidak mendengarkannya. Bagaimana musik bisa membuat hati damai di suatu hari, lalu membuat hati bergejolak di kemudian hari, dan kadang membuat hati liar bergentayangan di dunia imajinasi. Dan juga bagaimana musik pernah membuat jiwa saya putus asa, dan berada di titiknya yang terendah di sepanjang hidup.

Mungkin saja pengalaman ini spesifik untuk saya, dan tidak berlaku bagi orang lain. Mungkin tulisan ini pun tidak bisa menjawab semua pertanyaan di atas. Saya hanya sharing pengalaman saya sendiri, yang mungkin bisa diambil manfaatnya, bagi siapapun yang mengalami hal yang sama. Bagi siapapun yang cepat bosan membaca dan mempelajari Al-Qur’an, tak bisa berlama-lama mendengarkan bacaan atau murottal Al-Qur’an, dan susah sekali menghafal ayat-ayat Al-Qur’an.

Well…let’s get it started.
Semenjak kecil, sepertinya memang saya mewarisi darah seni dari ibu saya (sebagaimana juga mungkin mewarisi darah science dari ayah saya). Saya sangat menyukai musik. Otak saya cepat sekali memproses nada-nada lagu. Bahkan saya sering “bernyanyi di dalam hati” atau “membayangkan nada dan lagu” tanpa benar-benar bersuara atau menyanyi. Semua nada lagu, instrumentasinya, suara gitar dan bass nya, begitu jelas “terdengar” ketika tombol “play” ditekan didalam otak.

Dari semenjak SMP, saya sudah bikin lagu sendiri. Yaa… tema lagu-lagunya sih ngga jauh dari tipikal remaja, apa lagi kalau bukan tema CINTA, hehe…
Dan ini berlanjut hingga ke SMA, kuliah, dan bahkan setelah berkeluarga. Walaupun ngga pernah benar-benar go pro, tapi lagunya bener-bener direkam, walaupun dengan suara pas-pasan (setelah dikasih efek dan editan berbagai macam, lumayan lah suaranya acceptable, hehe). Semakin dewasa, memang tema lagu nya makin bergeser ke arah tema KEHIDUPAN, SPIRITUAL, dan TUHAN.

Gitar benar-benar menjadi teman setia sejak dulu. Terutama waktu patah hati atau putus cinta, zaman SMP dan SMA, hehe. Pernah jadi gitaris dan aktif nge-band sama beberapa teman. Begitupun software synthesizer dan sound editing di laptop, dan bahkan di tablet yang come in handy, dan memudahkan untuk membuat lagu di mana saja, setiap mendapatkan “inspirasi”.

Saya dulu penggemar musik alternative rock, progressive rock, emo rock, indie rock, dsb. Saya fans berat Coldplay, Paramore, Dashboard Confessional, The Used, Rif, Andra and The Backbone, One Republic, Yellowcard, Illenium, Breaking Benjamin, dll, you name it.
Saya dulu juga fans berat musik-musik slow dan klasik seperti Ludovico Einaudi, Niklas Aman, Beethoven, Mozart, Christina Perri, Civil Wars, dsb. Belum lagi dengan adanya online music streaming app seperti SoundCloud, begitu mudah untuk menemukan musik-musik dan artist baru yang begitu renyah di telinga.

Saya dulu merasa “Music is amazing“. Sesuatu yang bisa membuat kita melupakan kesedihan, kekesalan, kemarahan, problematika hidup, dan stress. Begitu earphone terpasang ke telinga kanan dan kiri, dan mata dipejamkan, seketika itu jiwa serasa melayang ke dunia suara yang penuh warna dan imajinasi. Completely isolated from outside world. Tanpa sadar kepala mengangguk-angguk dan jemari tangan mengetuk-ngetuk. Jiwa pun meliuk-liuk, seperti tersihir oleh gelombang-gelombang dengan berbagai bentuk.

Seiring bertambahnya problematika hidup dan stress, kebutuhan akan musik semakin menjadi-jadi. “Dosis” lagu-lagu favorit pun harus ditingkatkan. Koleksi lagu-lagu baru terus ditambah. Dan malam pun hampir selalu berlalu dengan earphone yang masih terpaku di telinga. Lalu pagi hari terbangun dengan hati kecewa karena waktu di dunia imajinasi sudah habis, dan saatnya kembali ke dunia nyata. Dan semakin banyak “dosis” nya, semakin enggan saya kembali ke dunia nyata. Ingin rasanya lari dari kenyataan, dan hidup selamanya dalam angan-angan. Khayalan semakin tak jelas dan tak berujung. Mengharapkan suatu kedamaian abstrak, yang entah bagaimana mencapainya.

Suara-suara indah yang terasa manis, mulai terasa pahit. Kesedihan, alih-alih terobati, malah teramplifikasi. Kekesalan, semakin menjadi-jadi. Angan-angan yang tak mungkin tercapai, terasa sakit tak terperi. Saya semakin terjebak di dunia imajinasi sendiri. Di dunia nyata pun, emosi saya jadi cenderung gampang terpancing dan ngga stabil. Mudah kesal oleh sesuatu yang kecil dan remeh.

Bahkan suatu hari, karena suatu problematika dan stress yang memuncak, dunia imajinasi serasa meledak tak terkendali. Ide membuat lagu mengalir tanpa henti. Saya sampai bertanya pada diri sendiri, is it creativity? Or mental illness? (Apakah ini kreativitas atau gangguan kesehatan mental?).
Suddenly have ZERO mood to go to work. (Tiba-tiba kehilangan seluruh motivasi untuk bekerja). Maunya menyendiri. Melihat istri dan anak serasa asing. Rasa putus asa pun mulai meliputi.

Saya mulai khawatir, dan mulai googling mengenai apa yang saya alami ini. Dan saya cukup kaget karena begitu banyak musisi dan artist terkenal yang ternyata menderita mental illness. Seperti Beethoven yang dilaporkan mengalami depresi, yang bahkan beberapa pihak berpendapat dia menderita bipolar disorder (semacam ketidak stabilan emosi, dimana mood bisa berubah drastis dari kondisi “manic” yang begitu bersemangat, hingga kondisi “deppressive” yang dipenuhi perasaan kosong, putus asa, dan bahkan keinginan mengakhiri hidup). Begitu juga Kurt Cobain (bipolar disorder). Adele yang mengalami masalah Panic attack dan anxiety. Dan bahkan Beyonce dan Lady Gaga.

Menyadari potensi keseriusan masalah yang saya alami, saya sudah mencoba beberapa hal, salah satunya dengan bercerita ke orang-orang terdekat. Walaupun lumayan bikin plong, curhat saja ternyata ngga banyak membantu. Akhirnya saya coba untuk curhat dengan cara lain, yaitu menulis. Memang lebih efektif dan lebih relieving. Tapi rupanya semua itu hanya mengobati sementara aja, ngga permanen.

Hingga akhirnya tanpa sengaja saya menemukan suatu quote dari Ibnul Qayyim yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah penawar bagi segala penyakit hati. Tapi entah kenapa ada semacam “alergi” untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an. Tak bisa berlama-lama membacanya, apalagi mempelajari. Ketika menyalakan radio di mobil, yang dicari adalah lagu yang nge-klik. Dan ketika tanpa sengaja menemukan stasiun radio yang memutar murottal Al-Qur’an, cepat-cepat saya pindahkan ke frequency lain. Entahlah, seperti ada sesuatu di dalam hati yang ngga cocok dengan Al-Qur’an.

Suatu hari yang lain saya menemukan quote lain dari Ibnul Qayyim:

“Musik dan Al-Qur’an tak bisa berada di dalam satu hati.”
“Sungguh musik dapat memalingkan hati seseorang dari memahami, merenungkan, dan mengamalkan isi Al-Qur’an.”

Reaksi pertama ketika membaca ini tentu saja denial, penolakan. Masa sih?
Walaupun ada sesuatu di dalam diri yang mengatakan bahwa ini benar-benar sesuai dengan apa yang saya alami. Seiring berjalannya waktu, penolakan tetap mendominasi, tetapi saya tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata Ibnul Qayyim itu.

Hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengurangi “dosis” musik sedikit-sedikit. Memperjarang interaksi dengan lagu-lagu favorit.

Lalu kemudian mencoba menancapkan earphone lagi ke telinga, bukan untuk mendengarkan musik, tapi untuk mendengarkan murottal. Begitu tombol play ditekan, terdengar suara Syeikh Misyari Rasyid Al-Afasy yang begitu merdu. Ini, terasa berbeda. Soothing. Tapi hati masih biasa-biasa aja.

Entah kenapa semakin lama, frekuensi mendengarkan murottal semakin sering. Walaupun belum bisa lepas dari musik. Mulai ada sedikit pengaruh. Hati terasa sedikit lebih stabil. Tapi belum ada pengaruh signifikan. Kadang masih tak bisa menahan rasa “haus” untuk mendengarkan musik. Dan terjebak lagi di dunia imajinasi.

I took one step further. Saya coba mendengarkan murottal dari aplikasi Al-Qur’an di smartphone, sehingga saya bisa mendengar sambil membaca terjemahannya.

Dan keajaiban mulai terjadi. Entah kenapa air mata mengalir tak terbendung. Saya ingat betul, saat itu stress dan problem hidup sedang muncul lagi, dan di hadapan saya adalah Al-Qur’an Surat Al-Qalam ayat 48:

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوْتِ ۘ اِذْ نَادٰى وَهُوَ مَكْظُوْمٌ

“Maka bersabarlah engkau terhadap ketetapan Rabbmu, dan janganlah engkau seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika dia berdoa dengan hati sedih.”

Kata-kata yang menembus relung hati yang terdalam. So powerful. Surat Al-Qalam sendiri, diawali dengan huruf “Nun”, dan incredibly poetic karena setiap ayatnya berakhiran “uun” atau “uum”. Dan tidak seperti musik, yang liriknya kebanyakan berupa luapan emosi, ayat ini begitu sarat nasihat.

Saya tahu bahwa kata “engkau” di ayat itu mengacu kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Tapi kenyataan bahwa ayat itu secara kebetulan hadir di saat yang tepat, seakan menjawab semua keluh kesah dan kegelisahan yang ada. Saya seakan sedang dinasehati agar tidak manja. Karena apalah artinya masalah saya ini dibandingkan dengan Nabi Yunus ‘Alaihissalam yang ditelan ikan paus?

Dan hal seperti ini terjadi bukan hanya sekali atau dua kali. Tapi berkali-kali. Ketika merasa buntu di suatu kesulitan, dan tak tahan rasanya ingin shalat dan membaca Qur’an, secara kebetulan lagi Surat Al-Insyirah ada di hadapan:

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,”

اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah 94: Ayat 5-6)

Dan beberapa waktu kemudian, kemudahan-kemudahan benar-benar datang. Dan bukan hanya satu, tapi banyak kemudahan.

Sejak itu saya semakin sering berinteraksi dengan Al-Qur’an, berkali-kali setiap hari. Saya tak pernah lagi curhat kepada orang lain. Saya hanya menceritakan keluh kesah saya kepada Allah. Mengadu kepada Allah. Menangis kepada Allah. Dan semua itu menghasilkan stress relieving yang begitu dahsyat. Saya makin menyadari dan bisa membedakan hal-hal mana saja yang ada di dalam kontrol saya, dan mana yang berada di luar kendali saya. Belajar menerima Qadr-Nya.

Dan tanpa disadari saya sudah “sembuh”. Tak ada lagi dunia imajinasi. Tak ada lagi putus asa, kesedihan, dan kekesalan. Hati pun terasa lebih stabil, tidak mudah kesal, dan mudah memaafkan.

Semakin lama, saya makin menyadari bahwa musik, bukanlah “air”, tapi “racun” yang terasa manis, namun membunuh secara perlahan. Kata-kata dan suara indah yang penuh khayalan yang melalaikan.

“Air” yang sebenarnya adalah Al-Qur’an. Seperti tenggorokan kering yang haus akan air menyegarkan, hati ini pun selalu haus akan petunjuk, thirsty of guidance, yang ada di dalam Al-Qur’an. Dan kita membutuhkannya setiap saat, seperti air. Kita ngga bisa bilang, “Oh saya sudah minum minggu kemarin, belum butuh minum lagi”. Nope! We need it several times every day. Begitu pun Al-Qur’an. Hati kita membutuhkannya setiap hari, bukan setiap minggu, atau setiap bulan, apalagi setiap tahun.

Jika hati diibaratkan seperti sesuatu yang bergetar dengan berbagai modus getar, tergantung emosi yang dirasakan (sedih, bahagia, marah, kecewa, dsb). Maka musik cenderung meng-amplifikasi setiap jenis modus getar. Sedih, tambah sedih. Putus cinta, tambah putus asa, sampai bisa bunuh diri. Membuat hati tenggelam di alam imajinasi, tanpa memberikan solusi.

Sedangkan Al-Qur’an, Subhanallah….
Al-Qur’an berinteraksi dengan hati sedemikian rupa sehingga apapun modus getarnya, apapun jenis emosinya, bisa diredam sehingga getarannya menjadi stabil. Ngga bikin mood jadi ngga karuan dan definitely memberi solusi dan nasehat-nasehat yang menohok di hati.

Kini suara Syeikh Misyari Rasyid Al-Afasy selalu terngiang-ngiang di kepala. Bakat musik bawaan lahir ternyata menciptakan “sound memory” yang membantu saya menghafal Al-Qur’an. Padahal dulu saya paling sulit menghafal Al-Qur’an. Jangankan surat-surat yang panjang, yang pendek pun susah. Bahkan surat-surat yang sudah hafal cenderung hilang dan terlupakan sedikit demi sedikit.

Kini tak ada lagi musik di kepala. I quit.
Walaupun tentu saja sulit untuk menghindari musik yang diputar di luar kontrol kita (misalnya: background musik di tempat makan, dll). Saya hanya bisa menghindari sebisanya. Yang paling penting, saya tidak pernah lagi merasa “haus” akan musik. Dan saya tidak pernah merasa sedekat ini dengan Al-Qur’an di sepanjang hidup saya.

Sungguh Allah dan Rasul-Nya paling tahu apa yang terbaik. Manusia hanya begitu angkuh untuk tunduk pada setiap hukum-Nya.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik.”
(HR. Bukhari)

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.