Maka Nikmat Rabb-mu yang Manakah yang Kamu Dustakan?

FontCandy (6)

MAKA NIKMAT RABB-MU YANG MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN?

Ayat ini mungkin sudah tak asing lagi. Ayat yang diulang-ulang di dalam Surah Ar-Rahman. Surah mulia yang dimulai dengan nama Allah, Ar-Rahman, The Most Lovingly Beneficent, The Most Kind and Giving, The Most Gracious, The Infinitely Good, Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Sebuah nikmat dan rahmat yang paling besar yang telah Allah limpahkan kepada manusia.

Tapi manusia seringkali begitu bebal mendustakan semua nikmat-nikmat Rabb nya. Sehingga di Surah ini, di setiap Allah menjelaskan nikmat yang telah diberikan-Nya, Dia mengulang dan terus mengulang pertanyaan yang sama, “Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?”.

Sebuah pertanyaan yang akan menembus relung hati orang yang memiliki iman. Atau mungkin mengundang tanya bagi seseorang yang masih meragukan kebenaran Al-Qur’an. Yang mengira Al-Qur’an adalah buatan manusia. Seseorang yang mungkin mengkritisi, kenapa sih ayat Al-Qur’an banyak yang diulang-ulang? Koq ngga efisien?

Baiklah. Mari kita lihat seberapa efisien pengulangan itu.

Pertanyaan itu diulang di dalam Surah Ar Rahman, sebanyak 31 kali. To be exact, pada ayat 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77.

Kalau ada yang berpikir bahwa penempatan ini random dan tidak efisien, maka coba perhatikan. Jika nomor-nomor ayat itu kita susun dari kanan, sehingga tersusun angka yang terdiri dari 62 digit:
77757371696765636159575553514947454240383634323028252321181613

Ketahuilah bahwa angka dengan digit masif ini, merupakan kelipatan 7. Dengan kata lain, jika angka ini dibagi 7, maka akan menghasilkan bilangan bulat, tanpa desimal, yaitu:
11108195956680805165653650502135350605769090617575464617311659

OK. Seseorang mungkin akan berpikir, what so special about it? Emangnya kenapa kalo angka itu kelipatan 7? Well, it’s so special, karena jika pertanyaan (“Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?”), diposisikan di posisi ayat yang lain, maka tidak akan menghasilkan angka yang merupakan kelipatan 7. Misalnya, instead of ayat 13, pertanyaannya diposisikan di ayat 12 atau 11 atau 10, maka hasil pembagian dengan 7 tidak akan menghasilkan bilangan bulat, dan akan memiliki desimal. Begitupun posisi-posisi yang lain, jika diubah maju atau mundur 1 angka saja, tidak akan menjadi kelipatan 7.

Lagi-lagi, seseorang mungkin akan berpikir, it’s just a coincidence, cuma kebeneran aja ini mah. OK, bagaimana kalau kita susun nomor-nomor ayat itu dari kiri (arah berlawanan):
13161821232528303234363840424547495153555759616365676971737577

Ketahuilah bahwa angka yang urutannya sudah dibalik ini, juga merupakan kelipatan 7. Jika angka ini dibagi 7, maka akan menghasilkan bilangan bulat, tanpa desimal, yaitu:
1880260176075471890623405774935356450507965659480810995962511

Dan lagi-lagi, kalau urutan pertanyaannya diubah-ubah posisinya, maka jika angkanya dibagi 7, tidak akan menghasilkan bilangan bulat, dan akan memiliki desimal. Masih mungkinkah ini kebetulan?

Kalau masih belum cukup juga, mari kita lihat jumlah pengulangan pertanyaan yaitu 31. Apa yang istimewa dengan 31? Dibandingkan misalnya 30 atau 32.
Jika kita urutkan angka 31 secara menurun hingga angka 1 sebagai berikut:
31, 30, 29, 28, 27, 26, 25, 24, 23, 22, 21, 20, 19, 18, 17, 16, 15, 14, 13, 12, 11, 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1

Jika urutan diatas kita susun menjadi sebuah angka yang terdiri dari 31 digit:
31302928272625242322212019181716151413121110987654321

Ketahuilah bahwa angka ini pun merupakan kelipatan 7. ALLAHU AKBAR!!!
Jika angka ini dibagi 7, maka hasilnya berupa bilangan bulat, tanpa desimal:
4471846896089320331744574168816593059017301569664903

Dan angka 30, jika disusun seperti ini, tidak akan menghasilkan kelipatan 7. Begitu pun angka 32.

Jadi yakin ini pengulangan yang tidak efisien?
Mungkinkah manusia melakukan perencanaan serumit dan seakurat ini?
Adakah manusia yang bisa membuat sesuatu seperti ini dengan positioning kalimat sedahsyat ini?
Dan ini kita baru membicarakan sisi matematisnya. Belum keindahan bahasanya, kedalaman maknanya, dan isyarat science nya.
Adakah manusia, yang kalaupun dibantu jin, bisa membuat suatu karya tulis yang indah bahasanya, dalam maknanya, kaya isyarat science nya, sekaligus terstruktur secara matematis seperti ini?

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
(Al-Baqarah: 23)

Sumber:
The Marvels of Number 7 in the Holy Qur’an, Abduldaem Al-Kaheel

Catatan:
Kalau ada yang mau verifikasi, please note bahwa kebanyakan kalkulator biasa, bahkan Excel, ngga bisa mengolah angka dengan digit gede. Harus pake large digit calculator (banyak available online).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.