Demi Waktu

DEMI WAKTU

وَالْعَصْرِ
اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
(QS. Al-‘Asr 103: Ayat 1-3)

Ini adalah pengingat untuk saya sendiri, dan kita semua, tentang waktu.

Demi waktu…
Allah bersumpah menggunakan waktu, bahwa manusia berada dalam kerugian, gagal…
Karena memang waktulah yang menjadi saksi atas berbagai macam kegagalan yang terjadi berulangkali di dalam sejarah kehidupan manusia. Dalam kehidupan pribadi kita, waktu menjadi saksi atas semua yang kita lakukan, dan apa kita berharap tidak melakukannya. Di penghujung hidup kita, kita selalu berharap bisa melakukan lebih, bisa memanfaatkan waktu lebih baik, menyesal karena kita berada dalam kerugian.

Bukti nyata bahwa saya, kita semua, dan setiap manusia di seluruh dunia, sedang berada dalam kerugian, adalah waktu. Waktu kita di dunia ini selalu berkurang, tidak pernah bertambah, tidak bisa kembali.

Jika kita kehilangan pekerjaan, dengan ikhtiar maksimal dan doa kepada Allah, insyaAllah kita akan mendapatkan pekerjaan yg lain. Jika kita kehilangan uang, harta, rugi dalam bisnis, dsb, dengan ikhtiar maksimal dan doa kepada Allah, insyaAllah kita bisa mendapatkan penggantinya. Tapi jika kita kehilangan waktu, sungguh inilah kerugian yang sebenarnya, karena tak ada yang bisa mengembalikan atau menggantinya.

Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa kekayaan adalah kesuksesan. Maupun mengatakan bahwa kemiskinan adalah kegagalan. Al-Qur’an mengatakan bahwa kesuksesan yang sebenarnya, tidak ada hubungannya dengan uang, kekuasan, kekayaan, dsb. Kesuksesan yang sebenarnya ditentukan oleh bagaimana seseorang menggunakan waktunya.

Semua berada dalam kerugian, “illalladziina aamanu”, kecuali mereka yang beriman. Beriman kepada Allah, kepada wahyu yang diturunkan (kitab Al Qur’an, melalui malaikat, dan Rasul-Nya), dan kepada hari akhir. Dan salah satu kualitas yang dimiliki orang beriman adalah percaya dan sadar bahwa mereka terus kehilangan waktu sehingga muncul sense of urgency. Sense of urgency untuk melakukan kebaikan sebagai wujud nyata keimanannya. Karena iman tidak akan berarti apa-apa, tanpa tindakan nyata.

“Wa ‘amalushshaalihaat”, dan melakukan amal kebaikan. Kata صلح secara harfiah adalah memperbaiki sesuatu yang rusak, atau memperbaiki sesuatu yang salah.

Sehingga عملوا الصالحات adalah amalan-amalan (plural) yang memperbaiki banyak hal atau membuat kita menjadi lebih baik. Ayat ini mengisyaratkan bahwa manusia memang tidak sempurna, dan tidak akan pernah bisa sempurna. Poinnya adalah menyadari apa yang salah dan secara terus menerus memperbaikinya, untuk menjadi orang yang lebih baik, muslim yang lebih baik.

Kemudian “Wa tawashow bilhaqq wa tawashow bish shabr”. Kata تواصوا adalah menasehati dengan dasar hubungan timbal balik, tindakan saling menasehati. Artinya, kita tidak hanya memberikan saran dan nasehat, tapi juga siap menerima saran dan nasehat. Dan bukan asal menasehati, tetapi nasehat yang didasari kasih sayang dan ketulusan. Dan tetap disampaikan dengan jujur. Ucapkan kebenaran dan selalu siap untuk mendengar kebenaran.

Kata بالحق , secara jujur dan tulus. Artinya bukan saja saling menasehati kepada kebenaran, tapi alasan kita melakukannya adalah rasa ingin menolong, untuk membuat mereka menjadi lebih baik, bukan karena kita merasa lebih baik dari orang yang dinasehati.

Kata بالصبر berarti bahwa memang mengajak seseorang, menasehati orang kepada kebaikan itu kadang sulit, kadang mudah. Kita harus bersabar dan bekerja sama. Belajar untuk memahami kelemahan dan kelebihan masing-masing. Belajar untuk bekerja sama. Mendukung dan mengingatkan ketika saudara kita sedang down, karena bisa jadi kita butuh dukungan dan nasehat dari mereka ketika kita down. Itulah yang akan membuat kita kuat bersama-sama.

Setiap manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang melakukan 4 hal:

  • Beriman
  • Melakukan amal salih
  • Saling menasehati kepada kebenaran dengan jujur dan tulus
  • Saling menasehati dengan kesabaran

Semua itu adalah “DAN” bukan “ATAU”. Artinya, kita bisa mencapai kesuksesan, hanya jika bisa melakukan ke empat-empatnya. Bukan hanya salah satu atau salah dua.

Dan semua kata dalam ayat itu adalah past tense (bentuk lampau). Jadi, 4 hal itu:

  • Sudah beriman
  • Sudah melakukan amal shalih
  • Sudah saling menasehati kepada kebenaran dengan jujur dan tulus
  • Sudah saling menasehati dengan kesabaran

Sehingga tidak ada seorang pun yang berfikir bahwa mereka sudah selamat dan aman. Satu-satunya orang yang berhak mengatakan bahwa dia berhasil melakukan 4 hal ini adalah mereka yang sudah mati. Jika kita masih hidup, maka kita harus terus-menerus melakukan 4 hal ini, sampai kita mati, barulah kita termasuk kategori orang yang berhasil.

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang berhasil meraih kemenangan yang bisa menggunakan waktunya dengan bijak, untuk keimanan, untuk melaksanakan amal shalih, untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

آمين يا ربّ العالمين

– Dirangkum dari Thematic Overview 01, Bayyinah TV, Nouman Ali Khan

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s