Mu’min Itu Bersaudara

FontCandy (12)

MU’MIN ITU BERSAUDARA

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 10)

Kadang ketika kita terlalu fokus pada sesuatu yang detil, kita lupa pada big picture, gambaran besarnya. Terlalu terobsesi pada yang advance (kompleks), tapi lupa kepada yang basic (dasar). Terlalu fokus mengikuti sunnah, sampai lupa kepada yang wajib.
Ayat ini adalah salah satu hal dasar yang sering terlupakan. Bahwa sesama mu’min, sesama orang beriman, tak lain adalah saudara.

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ

Innamal mu’minuuna ikhwah. No doubt about it, true believers are nothing but brothers. Tidak diragukan lagi, mu’min-mu’min sejati itu, sesama orang beriman itu, tak lain adalah saudara.

Dalam bahasa Arab, أخ (akh) berarti saudara. Bentuk plural (jamak)nya ada dua alternatif, yaitu إخوان (ikhwaan) dan إخوة (ikhwah). Ikhwaan digunakan untuk mengekspresikan persaudaraan karena suatu sebab, sedangkan ikhwah digunakan untuk persaudaraan karena hubungan darah. Dan ayat ini menggunakan kata ikhwah.

Allah secara harfiah mengatakan kepada kita supaya kita berpikir ulang, bahwa darah kita terikat ketika kita menyatakan diri sebagai orang Islam. Jika kita tidak merasakan rasa persaudaraan kepada muslim yang lain, maka kita harus mengecek ulang iman kita, karena dalam ayat ini Allah sedang membicarakan mu’min. Mu’min sejati.

Rasa persaudaraan ini adalah sesuatu yang seharusnya kita miliki terhadap semua muslim. Terlepas dari apapun etnisnya, warna kulitnya, kebangsaannya, status sosialnya, harta yang dimilikinya, dsb. Karena kita diikat dengan kalimat laailaaha illallaah muhammadarrasuulullah.

Muslim yang menjadi supir taksi, tukang ojek, tukang becak, office boy misalnya, mereka semua itu saudara kita. Kadang kita terjebak dalam budaya masyarakat yang menganggap mereka lebih rendah dari kita, yang bisa kita marahi seenaknya, bisa kita hardik seenaknya. Padahal mereka adalah saudara kita. We owe them respect. Kita harus menghormati, menghargai, dan peduli kepada mereka. Janganlah ragu untuk memberikan lebih untuk mereka. Kita tidak pernah tahu seberapa berartinya itu mungkin bagi mereka.

Meskipun ketika mereka memberikan pelayanan yang kurang memuaskan. Telat atau kurang ramah misalnya. We never know what difficulty they’ve gone through. Kita tidak pernah tahu kesulitan macam apa yang mungkin mereka sedang hadapi. Cobalah untuk ber-empati. They are our brothers. Mereka adalah saudara kita. Beginilah seharusnya attitude kita terhadap muslim yang lain.

Begitu pula sesama muslim yang berbeda pendapat dengan kita, berbeda cara berpikir, berbeda tempat mengaji, mereka adalah saudara kita. Saat ini begitu mudah, terutama di media sosial, sesama muslim mengatakan munafiq, sesat, kafir, kepada muslim lainnya. Padahal itu adalah saudaranya.

Ketika pun ada muslim yang marah dan mencaci-maki kita, sebelum kita merespon balik, pikirkan ulang apa latar belakang yang bisa membuat mereka melontarkan itu, mungkin kita mengatakan sesuatu yang ternyata dipahami secara berbeda oleh mereka. Mungkin kita secara tidak sadar menyinggung mereka. Jika itu yang terjadi, kita harus menghargai komplain mereka dan meminta maaf. Dan mungkin kita harus menjelaskan ulang posisi kita dengan cara yang lebih baik dan mudah dipahami.

فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ

Fa’ashlihuu bayna akhawaykum. Maka damaikanlah antara saudaramu yang berselisih.
Our job is to undo fight. Tugas kita adalah menghentikan pertikaian. Bukan melanjutkannya. Tahan amarah kita. Karena persaudaraan tidak bisa tercipta jika kita tidak bisa menelan kemarahan.

Dalam hal-hal kecil seperti mengantri (di kasir, ATM, airport, stasiun, dsb), berbelanja, menyetir di jalan, sering terjadi pertikaian antara sesama muslim karena kita menganggap mereka adalah orang lain. Sadarilah bahwa mereka bukan orang lain, mereka saudara kita. Saudara yang layak mendapatkan kesopanan kita. Jika kita tidak mampu menjaga rasa persaudaraan dalam hal kecil, bagaimana mungkin kita menjaganya dalam hal besar?

وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Wattaqullaaha la’allakum turhamuun. Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat kasih sayang dan perhatian (rahmah). Hubungan persaudaraan adalah hubungan rahmah. Kita sebaiknya sadar, jika kita tidak bisa menunjukkan kasih sayang dan perhatian kepada sesama muslim, maka Allah tidak akan memberikan rahmah-Nya kepada kita.

 

Ref:

Thematic Overview Part 44, Bayyinah TV, Nouman Ali Khan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s