Jika Laut Terbelah Untukmu

Bayangkan laut terbelah tepat di depan mata kita.

Bayangkan jika kita terlahir sebagai bangsa budak. Dipaksa bekerja berat setiap hari oleh penguasa lalim. Disiksa dengan kejam jika melawan. Dan setiap dua tahun sekali, anak-anak kita yang baru lahir, jika dia laki-laki, akan diburu dan dibunuh. Tentara-tentara akan mendatangi setiap rumah, menggeledah setiap sisi rumah, untuk membunuh bayi laki-laki yang ada. Dan ini terus berlangsung selama ratusan tahun.

Lalu suatu saat datanglah pertolongan. Seseorang datang memimpin bangsa kita untuk melarikan diri dari negeri ini. Berbondong-bondong dalam jumlah besar, kita keluar meninggalkan tempat tinggal, menuju ke arah laut. Dan ternyata di belakang rombongan kita, sang penguasa lalim beserta tentaranya mengejar dengan cepat.

Rombongan kita terjebak. Di belakang kita ada pasukan penguasa lalim yang siap membunuh kita semua. Sedangkan di depan kita terbentang lautan luas yang mustahil dilewati.

Sang pemimpin memukulkan tongkatnya ke laut. Dan tiba-tiba saja laut terbelah tepat di depan mata kita. Molekul-molekul H2O tiba-tiba saja tidak mematuhi hukum gravitasi. Berkumpul laksana gunung besar di kanan kiri jalan laut yang terbelah. Memberikan jalan kepada kita untuk melintas.


 

Bayangkan jika kita mengalami itu, pastilah itu akan menjadi peristiwa yang luar biasa bagi kita. Menyaksikan suatu mu’jizat di luar kemampuan manusia. Merasakan langsung tanda-tanda kekuasaan Sang Pencipta Langit dan Bumi, Allah.

Bagi saya pribadi, mempelajari mu’jizat-mu’jizat yang ada di dalam Al-Qur’an, from many different angles, dari berbagai sudut pandang, baik itu keindahan bahasa, sains, struktur matematis, kesimetrian, sejarah, tajwid, dan lainnya, mungkin rasanya seperti menyaksikan lautan terbelah di depan mata kepala sendiri. Begitu luar biasa rasanya. It’s an iman booster, pendongkrak keimanan.

Tapi kadang kita suka salah fokus. Kita menjadi begitu terobsesi dengan mu’jizat, addicted with miracles. Saya bahkan membaca ada seorang peneliti yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya hanya untuk meneliti sains atau kode-kode di dalam Al-Qur’an. Sedangkan inti pelajaran di dalam Al-Qur’an nya itu sendiri, tidak dibahas sama sekali.

Pertanyaan yang sangat penting untuk kita jawab adalah:

Setelah menyaksikan mu’jizat, lalu apa?

Apakah kita hanya akan jadi semakin kehausan dengan mu’jizat? Addicted with miracles? Seperti halnya Bani Israil yang terus meminta mu’jizat kepada Nabi Musa ‘alayhissalam, sedangkan mereka malah bertambah kufur.

Apakah kita misalnya hari ini terpesona dengan mu’jizat Al-Qur’an, mengatakan “Subhaanallah”, “Allahuakbar“, begitu bersemangat mengagungkan Allah, lalu besok kita kembali ke dalam kemaksiatan? Kembali bermalas-malasan dalam beribadah? Kembali kepada yang haram?

Sungguh, yang sulit itu bukan mencari kebenaran. Yang sulit itu menjalani kebenaran.

Yang susah itu,

Atiiullaaha wa atiiurrasuul. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Yang susah itu,

Sami’naa wa atho’naa, kami dengar dan kami taat.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s