Dark Ages atau Golden Ages?

Dark Ages atau Golden Ages

Ada suatu masa dalam sejarah, dimana dunia barat menyebutnya Dark Ages, masa kegelapan. Era dimana mereka mengalami masa yang panjang dalam ‘kegelapan’ intelektual, kemunduran ekonomi dan ke-stagnan-an ilmu pengetahuan, dimulai dari runtuhnya Kerajaan Romawi di abad ke-7, terus berlanjut hingga abad ke-16.

Well, dark ages itu kata mereka. Di masa yang sama, di belahan dunia yang lain, bersinar peradaban Muslim yang terbentang dari Spanyol hingga Cina. Peradaban yang menghasilkan begitu banyak temuan ilmu pengetahuan dan terobosan teknologi. A time when the golden rays of discovery and invention shone over everything.

Kami, muslim, menyebutnya Golden Ages, masa keemasan.

Ini pastinya sangat langka dibahas di pelajaran sejarah di sekolah. Karena ketika membahas perkembangan ilmu pengetahuan, selalu yang ditonjolkan adalah European Renaissance yang berlanjut dengan revolusi industri di abad ke-18. Seakan-akan perkembangan ilmu pengetahuan itu langsung ‘melompat’ dari zaman Aristotle, dari zaman Archimedes, langsung ke zaman Newton. Padahal ada 1000 tahun yang hilang dan terlupakan dari sejarah ilmu pengetahuan dan engineering. Seribu tahun yang bahkan terlupakan oleh kebanyakan muslim sendiri.

Kita lupa bahwa Nicolaus Copernicus, matematikawan dan astronom ternama abad ke-16, berulang kali menyebutkan dalam bukunya De Revolutionibus, bahwa dia mengacu kepada Al-Zarqali dan Al-Battani, astronom muslim dari abad ke-11 dan 10.

Kita lupa bahwa Johannes Kepler, matematikawan dan astronom terkenal abad ke-17, dalam penelitiannya mengenai optik, ternyata mengandalkan karya Ibn Al-Haytham yang berjudul Kitab Al-Manazir (Book of Optics) yang diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerard dari Cremona dan bukunya disebut Perspectiva atau De Aspectibus. Ibn Al-Haytham adalah ilmuwan muslim yang, 6 abad sebelum Kepler, menemukan prinsip camera obscura yang menjadi prinsip dasar kamera saat ini. Karya dan penelitian Kepler, persis melanjutkan penelitian Ibn Al-Haytham. Kepler took up where Ibn Al-Haytham left off.

Kita lupa bahwa Robert Boyle, seseorang yang dikenal karena penemuannya dalam ilmu kimia modern, orang yang menemukan Hukum Boyle (Boyle Gas Law), ternyata mempelajari bahasa Arab dan Syriac, karena banyak manuskrip ilmu pengetahuan pada masa itu yang ditulis dalam bahasa tersebut. Dia memiliki akses terhadap karya Al-Iraqi, ahli kimia muslim abad ke-13 dan karya Abulfeda, ahli geografi asal Syria. Dalam karyanya, dia sering kembali ke prosedur-prosedur eksperimen yang dikembangkan oleh ahli kimia muslim seperti Jabir Ibn Hayyan (dunia barat menyebutnya Geber).

Nama-nama ilmuwan muslim itu seakan hilang dari pelajaran sejarah, digantikan nama-nama ilmuwan barat yang dihapal anak-anak kita (dan kita) di sekolah.

Padahal ada ‘Abbas Ibn Firnas (Abbas Abu Al-Qassim Ibn Firnas Ibn Wirdas Al-Takurini) pada abad ke 9 di Andalusia, yang mempelopori pembuatan mesin terbang pertama, yang bisa membawa manusia ke udara, 10 abad sebelum Wright bersaudara (Wright brothers).

Ada Al-Jazari (Badi’al-Zaman Abu Al-‘Izz Isma’il Al-Razzaz Al-Jazari) pada abad ke-12 di Turki Selatan, seorang mechanical engineer yang mempelopori pembuatan jam bertenaga air. Dia mendokumentasikan penemuan-penemuannya dalam sebuah manual, yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, berjudul Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices pada tahun 1206. Dan salah satu warisan yang paling penting bagi dunia mechanical engineering adalah aplikasi mekanisme “crank dan connecting-rod” yang mengubah rotasi menjadi gerakan linear. Mekanisme dasar yang digunakan pada mesin-mesin modern saat ini (pompa, engine, kompresor, dan lain-lain).

Ada Al-Khwarizmi pada abad ke-9 di Baghdad, seorang matematikawan yang memperkenalkan konsep aljabar (algebra). Sebuah konsep penggabungan yang memungkinkan bilangan rasional, bilangan irasional, dan besaran geometris, untuk dapat diperlakukan sebagai objek aljabar. Sesuatu yang memberikan dimensi baru dalam ilmu matematika dan perkembangannya. Sesuatu yang sangat penting yang sebelumnya tidak bisa dilakukan oleh ilmu matematika. Konsep aljabar nya ini kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Al-Karaji, lalu kemudian Al-Samawal.

Dan masih banyak nama-nama lain yang seakan hilang ditelan masa. Nama-nama yang seharusnya dikenal oleh kita dan anak-anak kita. Kita seakan sedang tidur terlelap, di-ninabobo-kan oleh begitu pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia barat saat ini.

Sudah saatnya kita bangun. Sudah saatnya kita, muslim, memperhatikan sejarah, bagaimana dulu kita pernah menjadi Negara Superpower yang hampir menguasai seluruh dunia. Sehingga kelak kita atau anak-anak cucu kita bisa mengembalikan kejayaan itu.

 

Note:
Seri Tulisan “Dark Ages atau Golden Ages?” akan berlanjut insyaAllah.

Ref:
1001 Inventions – The Enduring Legacy of Muslim Civilization, Salim T. S. Al-Hassani, Chief Editor

 

>> Episode 2

 

 

 

Advertisements

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s