Bagai Kurma dan Keju

Seperti Kurma dan Keju

“Bagai kurma dan keju”

Jarang ya kita denger kalimat itu. Yang sering mungkin “Bagai panci dengan tutupnya” atau “Bagai dulang dengan tudung saji”. Pastinya ngga akan pernah denger “Bagai kurma dan keju”. Karena memang itu mah bikinan saya aja, hahaha…

Kenapa tiba-tiba iseng bikin perumpamaan itu? Nah, begini ceritanya.

Alhamdulillah beberapa pekan yang lalu saya mendapat kiriman makanan dari toko milik seorang kenalan. Seorang akhwat yang meninggalkan ke-PNS-an nya untuk menjadi pedagang kurma. Berjualan dari rumah. Hijrah yang pastinya tidak mudah. Ini pasti sebuah keputusan yang akan ditentang banyak pihak, bahkan mungkin oleh orang-orang terdekat. Namun beliau memilih untuk yakin dengan janji Allah:

“Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.” (H.R. Ahmad)

Dan kini saya ikut menyaksikan bahwa janji Allah itu benar. Sekarang beliau memiliki usaha yang sedang berkembang pesat: Ainayya Sunnah & Healthy Foods.

Di tengah menjamurnya toko-toko online saat ini, tentunya kita bisa saja bilang bahwa beli barang bisa di mana saja, tinggal pilih. Dan bahkan bisa pilih mana yang paling murah. Tapi ada satu hal, yang seorang pelanggan akan lebih memilihnya, ketimbang hanya sekedar harga murah, yaitu amanah dan kejujuran.

Kita mungkin pernah mendengar kisah seorang sahabat Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam yang bernama Abdurrahman bin Auf radhiyallahu’anhu. Seseorang yang menjadi kaya karena amanah dan kejujuran. Kunci keberhasilan beliau adalah prinsip bisnis yang transparan dan customer oriented. Dalam menjual kuda misalnya, ketika seseorang bertanya kepada beliau, “Berapa harga kuda ini?”, lalu misalnya beliau menjawab, “1000 dinar.”  Lalu pembeli tersebut mau mengambil uangnya untuk membayar, karena memang harga itu sudah harga yang cukup bagus, karena Abdurrahman bin Auf radhiyallahu’anhu memang memiliki banyak kuda dengan berbagai pilihan sehingga harga kudanya reasonable. Ketika itu, tahukah apa yang beliau kemudian lakukan?

Beliau mengatakan, “Tunggu sebentar. Jangan membayar saya 1000 dinar. Sepertinya ini ada sedikit cacat di giginya. Lalu ini ada beberapa helai rambut yang rontok dari buntutnya. Dan tapal kudanya sudah agak karatan. Oya, dan ini bukan 100% kuda Arab, induknya seekor kuda India.” Beliau terus mendeskripsikan segala kekurangannya dan seiring dengan itu terus menurunkan harganya, hingga pembeli mengatakan, “Tidak Abdurrahman, jangan terus menurunkan harga, saya tidak bisa menerima ini. Saya ikhlas dengan harga awal.”

Subhaanallah. Begitu luar biasa transparan dan pedulinya beliau kepada customer. Seorang penjual yang menunjukkan karakter persaudaraan, yang dibalas dengan persaudaraan pula oleh pembeli. Dengan semangat amanah dan kejujuran seperti ini, tidak ada yang membeli kuda pada saat itu, selain kepada Abdurrahman bin Auf radhiyallahu’anhu. An excellent business strategy, based on good values.

Tentu saja ini suatu standard yang pastinya sangat sulit untuk diikuti oleh kita. Tapi sebagai seorang mu’min, tugas kita adalah berjuang maksimal untuk mengikuti apa yang telah dicontohkan Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam dan para sahabatnya.

Dan saya melihat benih-benih perjuangan dan semangat itu, di Ainayya. Baarakallahu fiikum…

Saya melihat bahwa ini adalah sesuatu yang layak untuk dipromosikan, tanpa biaya, di blog saya. Lalu saya meminta izin kepada beliau. Dan maasyaaAllah, saya malah mau dikirim produk gratis dari Ainayya. Walaupun saya bilang, “Saya beli aja”. Tapi beliau tetap memaksa. Subhaanallah…

Singkat cerita, sampailah kiriman itu ke rumah. Dibungkus dengan bubble wrap rapi dan berlapis-lapis untuk melindungi produk supaya tidak rusak selama pengiriman.

Figure 01

Dan maasyaaAllah, ternyata saya dikirimi:

  1. Kurma Sukkari 500 gr
  2. Kurma Ajwah Madinah 250 gr
  3. Keju Al-Marai

Beginilah penampakannya:

Figure 02

Figure 03

Figure 04

Saya jujur agak gaptek dengan jenis-jenis kurma dan keju. Terus saya juga agak garuk-garuk kepala mencari hubungan antara kurma dan keju. Sampai akhirnya beliau memberikan tips ini:

  • “Jangan lupa makan kurmanya dicolek dulu ke keju”
  • “Sukkari nya masukin freezer”
  • “Ajwa di simpen di suhu ruang aja”

Ooooooohh…begitu 😀

It’s something new for me. Ternyata makan kurma itu dicolek dulu ke keju. Dan rasanya maasyaAllah… enaaak!! Anak saya yang biasanya ngga suka kurma pun, jadi seneng makan kombinasi kurma-keju ini.

Figure 05

Dan subhaanallah… after some research, ternyata memakan kombinasi kurma-keju ini adalah sunnah Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam. Sebagaimana yang diriwayatkan dari kedua anak Busyr As-Sulamiyyain, mereka berdua berkata.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengunjungi kami, maka kami hidangkan kepada beliau, keju dan kurma kering, sedangkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai keju dan tamr (kurma kering)”

Imam Ibnul Qayyim rahimahullaah memberikan komentarnya terhadap hadits tersebut dalam Ath-Thibb An-Nabawy : ‘Zubdah (keju) dapat berfungsi melunakkan tinja, melemaskan syaraf dan bengkak yang terjadi pada kandung empedu dan juga kerongkongan, berkhasiat juga mengatasi kekeringan yang terjadi. Bila dioleskan pada gusi bayi, berkhasiat sekali mempercepat pertumbuhan gigi. Berguna untuk mengatasi batuk yang timbul karena hawa panas atau hawa dingin, menghilangkan kudis dan kulit kasar. Rasa mual yang terkandung dapat menghilangkan selera makan namun dapat diatasi dengan makanan yang manis-manis, seperti madu dan kurma. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkombinasikan antara kurma dan keju, terdapat hikmah agar kedua jenis makan tersebut saling melengkapi” 

Keju dengan kandungan lemak dan protein yang tinggi dapat menambah kekurangan kandungan lemak yang terkandung dalam kurma.

Sumber: https://almanhaj.or.id/2231-petunjuk-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-ketika-makan-kurma.html

Frozen sukkari nya TOP!
Kurma ajwa nya MUMTAAZ!
Dikombinasikan sama keju Al-Marai yang lunak hampir kaya mentega, dan rasanya like no other ordinary cheese, ngga kaya keju biasa. Klop abis dimakan sama kurma. Highly recommended!

Kalau ada yang tertarik mencoba, bisa kunjungi langsung aja Facebook Page atau Instagram nya Ainayya Sunnah & Healthy Foods:

FB: Ainayya Sunnah Foods
IG: ainayya.sunnahfoods

Selamat mencoba!

Btw, kembali ke “Bagai kurma dan keju”, sekarang udah kebayang kan bahwa maksudnya itu “saling melengkapi”. Jadi kalau ada pasangan suami-istri yang serasi banget, kita sekarang bisa bilang “Bagai kurma dan keju” 😀   Hahaha…

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s