ARA.BIC Ep. 2 – Ngga Sesusah itu Ferguso

Maap kalo judulnya lebay, haha… Saya buat judulnya kaya gitu soalnya hampir semua orang yang udah mulai terbersit di hatinya, “Kayanya bener saya harus belajar Bahasa Arab nih.“, kaya saya dulu, ketika mulai nyoba belajar, ketika mulai nyoba baca buku-buku pelajaran Bahasa Arab, baru aja baca beberapa halaman, alis udah mulai mengernyit, mata udah mulai berkunang-kunang, karena dari awal kita udah terus-menerus diintimidasi dengan lautan konsep rumit dan istilah-istilah canggih yang entah apa artinya.

Walhasil, setelah baru baca beberapa halaman aja, kesimpulannya cuma satu, kayanya ngga keotakan deh Bahasa Arab ini, terlalu susah buat saya mah. Koq ya ngga ngerti-ngerti dan ngga maju-maju. Kayanya susah bener bikin progres yang signifikan.

Begitu pun yang ikut kursus atau kajian Bahasa Arab. Setelah beberapa kali pertemuan, seleksi alam mulai terjadi, jumlah peserta semakin menyusut, dan hanya segelintir manusia super sajalah yang bisa survive. Dan ngga jarang pula mereka pun akhirnya tumbang di tengah jalan, diterjang tsunami intimidatif yang seakan-akan tiada berakhir.

Jadinya tersebarlah cap bahwa Bahasa Arab itu super susah, dan ngga untuk semua orang. Saya termasuk orang yang berkesimpulan kaya gitu dulu. Ustadz Nouman Ali Khan dengan program “Arabic with Husna” nya di Bayyinah TV lah yang bikin saya berubah pikiran.

Beliau berulang kali menjelaskan bahwa ketika kita memutuskan mau belajar Bahasa Arab, itu tujuannya mau apa? Apakah supaya bisa ngomong lancar percakapan Bahasa Arab sehari-hari? (Misalnya supaya bisa keliatan keren bisa ngomong Bahasa Arab). Apakah supaya bisa nulis pake huruf Arab gundul dan bisa baca email atau website berbahasa Arab? Atau karena pengen paham bahasanya Al-Qur’an?

Tentu aja bagus banget kalo bisa lancar ngomong dan nulis (speaking and writing). Pastinya itu punya nilai plus tersendiri dan bisa menjadi modal berharga buat menuntut ilmu agama lebih serius ke depannya. Tapi sebenernya tujuan paling basic dan fundamental adalah supaya paham bahasa Al-Qur’an. Supaya kita paham apa yang kita ucapkan dalam shalat. Supaya tilawah dan shalat kita ngga sebatas ritual tanpa makna yang ngga ngepek ke kehidupan kita (seperti yang udah dibahas panjang lebar di Episode 1). Jadi, skill yang esensial untuk setiap muslim itu bukan speaking atau writing, tapi reading (membaca) dan listening (mendengarkan).

Begitu juga dengan fokus pembelajarannya. Apakah Bahasa Arab secara Umum? Atau Bahasa Arab Qur’an? Karena seringkali antara ekspektasi kita dan program Belajar Bahasa Arab yang ada, kurang klop. Sementara kita ekspektasinya adalah Al-Qur’an, tetapi programnya fokus kepada Bahasa Arab sehari-hari atau umum. Sehingga setelah belajar beberapa lama, ketika kita kembali ke Al-Qur’an atau shalat kita, sedikit sekali atau bahkan ngga ada pengaruhnya. Karena misalnya, yang dipelajari adalah kosa kata percakapan di pasar, di bandara, di stasiun, di restoran, nama benda sehari-hari dan lain-lain, yang pastinya kurang atau bahkan tidak relevan dengan isi Al-Qur’an.

Ketika kita memfokuskan diri ke Al-Qur’an, meniatkan segala jerih payah dan usaha kita dalam belajar karena ingin paham Al-Qur’an secara langsung, maka percayalah, everything will be much easier, semuanya akan terasa jauh lebih mudah. Karena memang ini adalah janji Allah.

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk diingat dan dipelajari, maka adakah yang mau mengambil pelajaran?” (Surah Al-Qamar ayat 17, dan terus diulang-ulang di ayat berikutnya)

Ayat ini harus dihafal, dibaca berulang-ulang, sampe terus ter-ngiang-ngiang di kepala kita. Supaya kita selalu ingat, bahwa Allah Maha Kuasa untuk memudahkan ikhtiar kita dalam memahami kitab-Nya, termasuk mempelajari bahasanya. Dan tak ada sesuatu pun yang akan terasa sulit, jika Allah sudah memudahkan. Ini adalah sumber motivasi kita.

Dan dalam mempelajari Bahasa Arab, hal yang paling penting bukanlah supaya cepet bisa, tapi supaya bisa menjaga motivasi tetap tinggi dan stamina belajar tetap fresh. Bukan untuk secepatnya menguasai, tapi supaya bisa mencintai. Sehingga tumbuh rasa cinta untuk mempelajarinya terus menerus hingga akhir hidup kita.

Ditulis oleh: Eka Pratama

Referensi: Arabic with Husna Program, Bayyinah TV

| Episode 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 5A | 6 | 7 |

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.