ARA.BIC Ep. 4 – Sembilan Jenis Dokter

Apa hubungannya dokter sama Bahasa Arab? Terus apa maksudnya 9 jenis dokter. Hehe… InsyaAllah bakal kita bahas kenapa. Dan bagi sahabat yang berprofesi sebagai dokter, jangan khawatir, ini bukan review tentang dunia kedokteran whatsoever 😀

Di episode ini kita akan mencicipi sedikit gimana sih uniknya mekanisme kata dalam Bahasa Arab, dan bedanya dengan Bahasa Indonesia. Dan sebelum ngebahas tentang 9 jenis dokter, kita akan bahas dulu 3 jenis kata dalam Bahasa Arab.

Dalam Bahasa Indonesia kita mengenal kata benda atau dalam Bahasa Inggris disebut noun (misalnya: meja, kucing, dokter). Terus ada kata kerja atau verb (misalnya: menginspirasi, menulis). Ada kata sifat atau adjective (misalnya: ganteng, tinggi). Ada kata keterangan atau adverb (misalnya: dengan cepat – quickly, dengan sabar – patiently). Ada kata depan atau preposition (misalnya: di, ke, dari). Ada kata penghubung atau conjunction (misalnya: dan, atau, tetapi). Dan ada kata ganti atau pronoun (misalnya: saya, kamu, dia, kami).

Nah dalam Bahasa Arab cuma ada 3 jenis kata aja yaitu:

  1. اِسْمٌ , Ismun atau Ism atau Isim. Semua kata benda, kata sifat, kata keterangan, dan kata ganti tergolong ke dalam jenis ini.
  2. فِعْلٌ , Fi’lun atau Fi’l. Ini kurang lebih sepadan dengan kata kerja, walaupun sebenernya ngga sama persis. InsyaAllah di episode-episode selanjutnya akan dibahas perbedaannya.
  3. حَرْفٌ , Harfun atau Harf, adalah suatu kata yang maknanya ngga masuk akal, kecuali diikuti dengan kata berikutnya (misalnya: di, ke, dari). Kategori ini kurang lebih isinya adalah kata depan dan kata penghubung. Tapi sebenernya lebih dari sekedar itu. InsyaAllah ini juga akan dibahas nanti.

Kita cicipi kategori pertama dulu, Ism, dan gimana perannya dalam mekanisme kata. Kategori 2 dan 3 insyaAllah akan dibahas di episode-episode selanjutnya.

Kita mulai dengan contoh kalimat ini dulu:

Ujang menendang Dadang.

Siapakah pelaku penendangan? Jawabnya: Ujang.

Siapakah korban penendangan? Jawabnya: Dadang.

Dalam Bahasa Indonesia (atau Bahasa Inggris), pelaku ditentukan berdasarkan urutan munculnya kata di dalam kalimat. Karena Ujang muncul duluan, kita otomatis tau bahwa Ujang-lah si pelaku. Dan karena Dadang muncul belakangan, kita jadi tau bahwa Dadang adalah korban.

Nah, Bahasa Arab ngga kaya gitu. Pelaku atau korban ngga ditentukan berdasarkan urutan dalam kalimat, tapi ditentukan dari status kata itu. Gimana maksudnya? Saya akan coba jelasin dengan contoh bodo-bodoan berikut ini.

Anggaplah dalam Bahasa Indonesia versi ARA.BIC, setiap suatu kata benda itu bisa punya tiga versi. Misalnya: Ujang, ada tiga versi: (1) Ujang-un, (2) Ujang-an, (3) Ujang-in. Begitupun Dadang, ada Dadang-un, Dadang-an, dan Dadang-in. Ini emang kedengeran aneh banget, haha…tapi bear with me, bersabarlah, pada akhirnya sahabat-sahabat insyaAllah paham apa maksudnya.

Kalo saya bilang:

Ujang-un menendang Dadang-an.

Itu artinya: Ujang menendang Dadang. Ujang adalah pelaku, Dadang adalah korban.

Tapi kalo saya bilang:

Menendang Ujang-an Dadang-un.

Itu artinya: Dadang menendang Ujang. Dadang adalah pelaku, Ujang adalah korban. Akhiran -un merepresentasikan status sebagai pelaku, dan akhiran -an merepresentasikan status sebagai korban. Jadi walaupun Dadang posisinya di akhir kalimat, Dadang adalah pelaku, karena memiliki akhiran -un.

Jadi kalo saya bilang:

Menendang Ujang-un Dadang-an.

Itu artinya Ujang sebagai pelaku (karena berakhiran -un) dan Dadang sebagai korban (karena berakhiran -an).

Nah itu kan contoh bodo-bodoan. Sekarang kita kembali ke jalan yang benar, Bahasa Arab beneran. Kita ambil dari Al-Qur’an. Contohnya misalnya:

Kalimat di atas artinya: “Dan Dawud telah membunuh Jalut”. Perhatikan harakat yang dikasih tanda kotak merah karena ini sangat penting. Di sini Dawud sebagai pelaku karena memiliki bunyi akhiran -u atau harakat dhommah. Dan Jalut menjadi korban karena memiliki bunyi akhiran -a atau harakat fathah.

Bayangkan kalo kita sampai salah nulis harakat, misalnya jadi:

Maka artinya jadi: “Dan Jalut telah membunuh Dawud”. Karena Jalut memiliki bunyi akhiran -u atau harakat dhommah sehingga statusnya sebagai pelaku. Sedangkan Dawud memiliki bunyi akhiran -a atau harakat fathah sehingga statusnya sebagai korban. Berbeda bunyi akhiran sedikit aja, arti bisa berubah 180 derajat. Begitulah mekanisme kata Bahasa Arab.

Okeh, kita udah bahas bunyi akhiran -un atau -u, dan bunyi akhiran -an atau -a, beserta pengaruhnya kepada status pelaku atau korban. Terus gimana dengan akhiran -in atau -i? Akhiran -in menunjukkan status kepemilikan. Dalam Bahasa Indonesia kita familiar dengan contoh misalnya: “motor Ujang” atau “mobil Dadang”. Artinya motor itu milik Ujang dan mobil itu milik Dadang.

Jadi kalo kita balik lagi ke contoh bodo-bodoan, Bahasa Indonesia versi ARA.BIC, kita akan nulis kata itu begini: motor-u Ujang-in atau mobil-u Dadang-in. Akhiran -in menunjukkan kepemilikan. Jadi kalo kita bilang rumah-u Asep-in, itu artinya rumah milik si Asep.

Contoh beneran Bahasa Arabnya misalnya:

Frasa di atas artinya “Kaum milik Luth” atau “Kaum Luth”, karena kata “Luth” memiliki bunyi akhiran -in atau harakat kasratain.

Nah menarik kan word mechanics nya Bahasa Arab. Okeh, kita coba cicipin beberapa hal menarik lagi dan sekaligus tibalah saatnya kita ngebahas…. jeng jeng jeng…

“Sembilan Jenis Dokter”

Haha…maap kalo ini bikin sahabat-sahabat geleng-geleng kegaringan 😀

Okeh… Dengan tadi sedikit belajar Bahasa Indonesia versi ARA.BIC pasti sahabat-sahabat udah ada clue lah ya dari 9 jenis itu, 3 jenisnya apa. Yup, tiga jenis itu adalah:

  1. Dokter-un, dokter dengan status sebagai pelaku
  2. Dokter-an, dokter dengan status sebagai korban
  3. Dokter-in, dokter dengan status kepemilikan tertentu

Jenis ke-4 adalah dokter-aani. Artinya “dua dokter” dengan status sebagai pelaku. Contoh kalimat bodo-bodoannya:

Menolong dokter-aani pasien-an.

Artinya: “Dua dokter menolong seorang pasien.”

Terus gimana kalo “dua dokter” tapi statusnya korban? Itulah jenis ke-5, yaitu dokter-aini. Contoh kalimatnya:

Memukul preman-un dokter-aini.

Artinya: “Preman memukul dua dokter.”

Dan untuk “dua dokter” dengan status kepemilikan, yaitu jenis ke-6, bunyi akhirannya sama dengan jenis ke-5, yaitu dokter-aini.

Jenis ke-7 adalah dokter-uuna, yaitu banyak dokter (lebih dari 2) dengan status sebagai pelaku. Contoh kalimatnya:

Mengoperasi dokter-uuna pasien-an.

Artinya: “Dokter-dokter mengoperasi seorang pasien.”

Dan kalo banyak dokter dengan status korban, begitu juga status kepemilikan, jenis ke-8 dan ke-9, yaitu dokter-iina. Sekarang mari kita list secara lengkap:

  1. Dokter-un, dokter dengan status sebagai pelaku
  2. Dokter-an, dokter dengan status sebagai korban
  3. Dokter-in, dokter dengan status kepemilikan tertentu
  4. Dokter-aani, dua dokter dengan status sebagai pelaku
  5. Dokter-aini, dua dokter dengan status sebagai korban
  6. Dokter-aini, dua dokter dengan status kepemilikan tertentu
  7. Dokter-uuna, banyak dokter (lebih dari 2) dengan status sebagai pelaku
  8. Dokter-iina, banyak dokter (lebih dari 2) dengan status sebagai korban
  9. Dokter-iina, banyak dokter (lebih dari 2) dengan status kepemilikan tertentu.

Terjawablah sudah apa maksud dari judul episode ini, hahaha… Tapi di akhir tulisan ini saya mengajak kita semua untuk sama-sama insaf dari kegaringan Bahasa Indonesia versi ARA.BIC ini, dan kembali ke jalan yang benar. Mulai sekarang lupakanlah status pelaku, dan gantilah dengan Raf’un atau Raf’ ( رفع ). Lupakanlah status korban, dan gantilah dengan Nasbun atau Nasb ( نصب ). Lupakanlah status kepemilikan, dan gantilah dengan Jarrun atau Jarr ( جرّ ). Dan gantilah kata dokter dengan kata muslim. Sehingga kita bisa membentuk apa yang disebut sebagai Tabel Muslim atau Muslim Chart:

Muslim Chart

Tabel ini wajib dihapal nih sahabat. Diulang-ulang terus: muslimun, musliman, muslimin, muslimaani, muslimaini, muslimaini, muslimuuna, muslimiina, muslimiina (10x setiap hari, haha).

InsyaAllah di episode mendatang kita bakal mencicipi contoh-contoh real sambil sedikit latihan. So stay tuned!

Ditulis oleh: Eka Pratama

Catatan:

  1. Tidak semua Ism mengikuti pola seperti Muslim Chart. Ism yang mengikuti pola ini hanya Ism yang fleksibel penuh. Sedangkan yang fleksibel sebagian atau non-fleksibel tidak mengikuti pola ini.
  2. Bentuk jamak dengan menambahkan akhiran -uuna atau -iina (Jam’ul mudzakkar as-saalim) juga tidak berlaku untuk semua Ism.

Referensi:

  1. Arabic with Husna 01.1.2 to 01.1.7, Bayyinah TV
  2. An-Nahw (Arabic Grammar 101), Islamic Online University

| Episode 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 5A | 6 | 7 |

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.