ARA.BIC Ep. 6 – Empat Karakteristik Unik

Sebelum kita membahas apa maksudnya 4 karakteristik unik, saya mau injeksikan lagi sedikit, di episode ke-6 ini, beberapa motivasi untuk mempelajari Bahasa Arab. Karena seperti yang udah dibahas di Episode 2, hal yang terpenting ketika kita belajar Bahasa Arab bukanlah supaya cepet bisa, tapi supaya bisa menjaga motivasi tetap tinggi dan stamina belajar tetap fresh. Kata Ibn Khaldun (ahli sejarah dari abad ke-14):

What negligence, we take young children and make them read what they do not understand.

Sungguh sebuah kelalaian, kita menyuruh anak-anak membaca sesuatu yang tidak mereka pahami.

(Ibn Khaldun)

Pertama kali mendengar quote ini rasanya kaya tertusuk tepat di tengah dada. Gimana ngga, jangankan anak saya, saya sendiri aja baru di umur 30an gini belajar Bahasa Arab. Sungguh udah lebih dari sekedar lalai saya ini.

Dosen mata kuliah Pedagogy di IOU lah yang men-share quote ini ketika sedang membahas Islamic Pedagogy (Pedagogi: ilmu dan seni mengajar). Beliau sangat menyayangkan bahwa hampir di seluruh negara muslim, kurikulum dalam mempelajari Al-Qur’an hanya berhenti di hafalan, atau bahkan berhenti di membaca saja. Beliau menceritakan pengalaman beliau, ketika menemukan anak-anak yang lulus dari sekolah Islam, hafidz 30 juz, tetapi shalat saja masih ogah-ogahan dan susah sekali disuruh. Ataupun yang bacaan Al-Qur’an nya bangus banget, tajwidnya, makhrajnya, tapi perilakunya tidak mencerminkan seorang muslim. Ini tuh sungguh tragedi banget.

Itu semua karena tujuan akhir pembelajaran hanya hafalan atau bahkan hanya bacaan. Tanpa disertai pemahaman terhadap apa yang dihafal dan dibaca. Masyarakat dan orang tua pun turut andil, karena bacaan dan hafalan anak begitu dibangga-banggakan. Nih, anak gue hafidz 30 juz. Kind of. Padahal apa yang dihafal itu ngga akan berguna kalau ngga diamalkan. Bukan berarti bacaan dan hafalan ngga penting. Itu sangat penting. Tapi itu bukan tujuan akhir. Dan tujuan akhirnya adalah pemahaman dan pengamalan.

Mendengar itu saya juga jadi ngebayangin dan bertanya-tanya sama diri sendiri. Pernah ngga ya saya baca suatu buku, tapi cuma baca aja, tanpa paham? Kayanya ngga pernah. Semuanya buku yang dibaca ya yang paham bahasanya, misalnya buku berbahasa Indonesia atau Bahasa Inggris atau Bahasa Sunda. Karena definisi ngebaca buku itu ya harus paham apa yang dibaca kan ya? Kan aneh misalnya saya tiba-tiba baca buku berbahasa Perancis yang saya ngga paham. Dibaca doang sampe tamat, tapi have no idea apa itu isinya.

Saya juga teringat pembahasan oleh Ustadz Nouman Ali Khan tentang ayat ini:

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتٰبَ إِلَّآ أَمَانِىَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ


“Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak memahami Kitab kecuali hanya berangan-angan dan mereka hanya menduga-duga.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 78)

Ustadz Nouman menjelaskan bahwa sebelum kita (umat Islam), ada umat yang juga diberi Kitab, memiliki Nabi dan memiliki syari’at. Tetapi mereka banyak yang tidak paham dengan Kitabnya. Siapakah mereka? Mereka adalah orang Yahudi (Bani Israil) dengan kitab Tauratnya.

Kata “amaaniy” dalam ayat tersebut artinya mereka ngga tau apa yang Kitab itu katakan, mereka cuma berpikir mereka tahu apa yang Kitab itu katakan. Ibnu Abbas dan Qatadhah radhiyallahu’anhumaa ketika mereka menafsirkan ayat ini, mengatakan bahwa “amaaniy” adalah bahwa Bani Israil pada waktu itu hanya melakukan tilawah dan menghafal, tanpa memahaminya. Mereka tidak tahu apa sebenarnya isi Kitabnya.

Jleb! Bukankah kebanyakan umat Islam saat ini ngga jauh berbeda dari mereka? Apakah kita akan mengulangi kesalahan mereka? Ya Allah, bimbinglah kami.

Semoga ini bisa memotivasi kita lebih lagi untuk terus berusaha maksimal belajar Bahasa Arab. Segera tularkan semangat itu kepada keluarga kita, pasangan kita, dan anak-anak kita. Dan semoga Allah memudahkan segala usaha kita untuk memahami Al-Qur’an.


Baiklah. Tiba saatnya kita untuk ngebahas apa yang menjadi judul episode ini. Empat Karakteristik Unik. Karakteristik unik apa? Sesuatu yang selama ini udah kita bahas di beberapa episode, yaitu Ism.

Ngga seperti kata benda dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang practically ngga punya karakteristik, setiap Ism dalam Bahasa Arab memiliki 4 karakteristik, yaitu Status, Jumlah, Gender, dan Tipe. Dan yang seperti ini hanya ada di dalam Bahasa Arab. Unique for Arabic only.

Kenapa infografiknya mobil? Supaya gampang inget aja kan mobil bannya ada 4. Haha… garing yak.

Dari latihan Muslim chart, Muslimah chart, dan chart-chart yang lain, insyaAllah sahabat-sahabat mungkin sudah ada gambaran mengenai apa itu status, apa itu jumlah (number), dan apa itu gender. Hanya “tipe” aja yang belum dibahas. Kita akan bahas mengenai “tipe” ini lebih detil nanti insyaAllah. Untuk sekarang saya mau share contoh simpelnya aja.

Sayangnya untuk ngejelasin tipe ini agak susah untuk ngambil contohnya dalam Bahasa Indonesia. Karena fitur ini bisa dibilang ngga ada dalam Bahasa Indonesia. Tapi ada dalam Bahasa Inggris.

Dalam Bahasa Inggris, untuk kata benda “buku” misalnya, kita bisa bilang “a book (sebuah buku – umum – buku yang mana aja)” atau “the book (buku yang ini – spesifik)”. Nah dalam Bahasa Arab juga begitu.

a book = كِتَابٌ

the book = الكِتَابُ

Dengan menambahkan “al”, maka Ism tersebut menjadi spesifik. Kita tidak sedang membicarakan buku yang mana aja, tapi buku yang ini, satu aja.

Contoh lain misalnya:

seorang muslim = a muslim = مُسْلِمٌ

Ini artinya bisa muslim yang mana aja, umum. Ngga spesifik seorang muslim tertentu. Tapi ketika kita bilang:

the muslim = المُسْلِمُ

Maka kita ngga sedang membicarakan muslim yang mana aja, udah jadi spesifik muslim yang itu, yang lagi dibicarakan.

Ada banyak hal yang bisa membuat suatu Ism menjadi spesifik, bukan hanya “al”. InsyaAllah akan kita bahas nanti. Untuk sekarang, jangan sampe lupa ya 4 karakteristik suatu Ism:

  1. Status
  2. Number (Jumlah)
  3. Gender
  4. Type (tipe)

Satu-satu akan kita bahas lebih detil insyaAllah. So stay tuned!

Ditulis oleh: Eka Pratama

Catatan:

  1. Ism yang umum disebut “nakirah”
  2. Ism yang spesifik disebut “ma’rifah”
  3. Ketika suatu Ism ditambah dengan “al”, maka harakat akhirnya tidak boleh mengandung tanwin.

Referensi:

  1. Arabic with Husna 01.1.2 to 01.1.10, Bayyinah TV
  2. An-Nahw (Arabic Grammar 101), Islamic Online University
  3. Arabic 101, Islamic Online University

| Episode 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 5A | 6 | 7 |

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.