Cingkrang tapi Sombong

Image by andreas160578 from Pixabay

Saya pernah ditanya sama temen lama, “Sekarang kamu celananya cingkrang, Ka?”
Terus saya jawab iya. Saya bilang alasannya karena itu termasuk sunnah yang gampang / ringan buat saya, tinggal potong celana di atas mata kaki, beres, done. Ngga perlu dana yang besar ataupun usaha yang berat.

Udah sekitar setahun lebih saya pake celana cingkrang (atau laa isbal). Bukan cuma pas shalat aja, di manapun, termasuk di kantor (waktu masih ngantor, hehe).

Awalnya pasti ngerasa aneh, awkward, dan diliatin sama setiap orang dengan lirikan ke bawah yang khas, hehe. Karena mungkin tampak culun. Tapi lama-lama terbiasa dan alhamdulillah seiring berjalannya waktu, malah makin banyak ikhwan yang cingkrang di kantor.

Saya ngga akan ngebahas hukum isbal (menjulurkan pakaian / celana di bawah mata kaki), karena saya ngga punya kualifikasi untuk itu. Saya paham ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Ada pendapat yang mengatakan tidak apa-apa isbal (celana di bawah mata kaki), asal ngga sombong. Dan ada pendapat yang mengharamkan isbal baik itu sombong maupun tidak.

Dulu saya masih bingung, pendapat mana yang benar. Yang membuat saya menunda-nunda untuk pake celana cingkrang. Sampai suatu ketika saya nonton video ceramah Dr. Zakir Naik. Ada seseorang yang bertanya kepada beliau mengenai hukum isbal, lalu beliau menjawab:

“Cinta macam apa yang kamu punya terhadap Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, jika perintah memendekkan celana di atas mata kaki saja masih kamu perdebatkan?”

JLEB!
Ngga lama setelah itu, tanpa pikir panjang, saya akhirnya memutuskan untuk bercelana cingkrang ria, tanpa peduli apa kata orang.

Tapi inti tulisan ini sebenernya bukan tentang cingkrangnya saya. Itu mah ngga penting. Saya cuma mau berbagi pengamatan dan pengalaman pribadi. Bahwa sebenernya, bukan hanya ada 2 kategori,

  1. Ngga cingkrang tapi ngga sombong
  2. Cingkrang dan ngga sombong

Tapi ada 1 kategori lagi:
3. Cingkrang tapi sombong

Kategori yang ketiga ini adalah sesuatu yang sangat ironis jika terjadi. Sesuatu yang banyak tidak disadari, terutama oleh seseorang yang baru berhijrah (termasuk saya). Padahal ini sesuatu yang tidak kalah bahaya.

Yaitu ketika kita sudah bercelana cingkrang, tapi ketika bertemu / ngeliat ikhwan yang ngga cingkrang, terbersit di dalam hati: أنا خير منكم ; “Saya lebih baik dari kamu semua.”

Yaitu ketika kita merasa lebih baik dari saudara kita. Bukan hanya masalah celana cingkrang aja. Tapi dalam hal apapun.

Semoga Allah menjauhkan kita dari kesombongan sekecil apapun.
Semoga Allah tidak mengharamkan jannah-Nya untuk kita.
Semoga Allah senantiasa membimbing dan memudahkan kita dalam mengikuti setiap perintah Rasul-Nya.

Ditulis oleh: Eka Pratama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.