Dari Ataturk Hingga Erdogan

Image by Etereuti from Pixabay

Kemarin lusa saya ngga sengaja mengobrol dengan seorang tetangga ketika pulang dari masjid. Beliau seorang muslim yang taat, rajin ke masjid dan rajin ikut pengajian. Berawal dari pertanyaan beliau yang simpel, “Gimana sehat, Mas?“, entah kenapa berlanjut menjadi obrolan Pemilu yang cukup panjang, karena saya menjawab begini, “Alhamdulillah sehat Mas, setelah kemaren-kemaren sempet drop setelah pulang pergi Bandung-Tangsel buat nyoblos.” (Karena saya masih KTP Tangsel). Nah, setelah saya pikir-pikir, kemungkinan besar jawaban saya inilah yang menjadi trigger untuk obrolan yang lebih panjang.

Oh, Mas nyoblos? Kenapa, Mas?“, tanya beliau. Dari pertanyaan beliau, saya sudah bisa menduga arah obrolan. Saya mencoba menjawab dengan hati-hati dan obrolan pun berlanjut panjang, terlalu panjang untuk diceritakan lengkap. Singkat cerita, beliau rupanya memilih untuk tidak memilih. Dan saya sangat menghargai itu. Karena beliau rupanya sudah cukup belajar banyak mengenai Siyasah Syar’iyyah (politik dalam syariat Islam). Dan Pemilu memang sebenarnya tidak sesuai dengan syariat dan merupakan produk dari demokrasi.

Seperti yang dijelaskan oleh ulama-ulama kita terdahulu [1][2], as-siyasah (politik) yaitu pengaturan kemaslahatan umat dengan hal-hal yang tidak bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, seperti dijelaskan dalam literatur para ulama seperti As-Sultaniyyah karya Al-Imam Al-Mawardi, As-Siyasah As-Syar’iyyah karya Ibn Taimiyyah, At-Turuq Al-Hukmiyyah karya Ibn Al-Qayyim, dan lain-lain. Tidak seperti politik yang dipahami di zaman sekarang, dimana politik hanya sebatas kemampuan untuk berdebat, menggerakkan massa, kemampuan berkelit, berubah-ubah warna, kemunafikan, dan selalu mengikuti kemana arah angin bertiup.

Di dalam syariat Islam, pemimpin dipilih oleh Ahlul hal wal ‘Aqdi (persetujuan tokoh-tokoh umat Islam dari kalangan ulama dan lainnya, bukan persetujuan orang awam), sebagaimana Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu dipilih oleh para Sahabat Nabi. Atau dipilih oleh pemimpin sebelumnya, sebagaimana yang dilakukan Abu Bakar radhiyallahu anhu ketika memilih Umar radhiyallahu anhu.

Tidak seperti Pemilu langsung, dimana pemimpin dipilih oleh seluruh warga, bagaimanapun kondisi keilmuannya, dimana suara seorang ulama akan dihitung sama dengan seorang preman. Dua suara dari saya dan istri saya, hasil pulang-pergi sejauh ~300 km, bisa diimbangi dengan mudah oleh dua suara yang tercoblos dengan curang.

Jadi tanpa diragukan lagi, saya sangat sepakat dengan tetangga saya itu, akan ketidaksesuaian Pemilu dengan syariat Islam. No doubt.

Tapi, ada khilaf di antara para ulama, ada yang membolehkan mengikuti Pemilu dalam kondisi-kondisi tertentu, yaitu ketika memilih bisa memberikan maslahat yang besar, atau ketika tidak memilih bisa berpotensi menyebabkan mudharat yang lebih besar. Walaupun ada juga ulama yang mengharamkan secara mutlak. Seperti dijelaskan oleh Ustadz Badru Salam [3] dan Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri [4]. Dan ini adalah masalah ijtihadiyah yang perlu kelapangan dada kita dalam menyikapi perbedaan yang ada.

Sehingga obrolan panjang kami pun berakhir dengan senyuman dan salam. Karena di setiap saat saya berbeda pendapat dengan sesama mu’min, saya selalu teringat doa di dalam Surah Al-Hasyr ayat 10:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوٰنِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

… wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.

Saya memutuskan untuk memilih pada tanggal 17 April kemarin, karena saya pribadi melihat maslahat yang besar jika kita memilih, dan potensi mudharat yang besar jika tidak memilih. Saya melihat Pemilu ternyata bisa memperjuangkan pemimpin-pemimpin amanah seperti Pak Anies Baswedan. Dengan tetap mengingkari segala ketidak sesuaian Pemilu dengan syariat dan ketidak-idealan situasi yang ada.

Mu’min di zaman kita ini sayangnya memang hidup di dalam ketidak-idealan yang sangat besar. Banyak negara yang mayoritas penduduknya muslim, tetapi sistem hidupnya tidak berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Pemimpin yang masih peduli dan memiliki keberanian dalam memperjuangkan Islam di dunia pun mungkin bisa dihitung dengan jari. Padahal umat Islam sedang terjajah dan terdzalimi di seluruh penjuru dunia. Dan Islamophobia sedang merebak di mana-mana.

Tapi ada salah satu pemimpin idola saya. Seorang pemimpin yang berani membela Islam secara terang-terangan, dan tidak takut kepada super power dunia saat ini yang Islamophobia-nya begitu kental. Seorang Pemimpin yang mengatakan kepada Trump, “Tuan Trump! Anda tidak bisa membeli demokrasi Turki dengan recehan dolarmu itu. Keputusan kami [terkait Al-Quds] sudah jelas. Saya menyeru kepada seluruh dunia. Jangan pernah menggadaikan impianmu untuk berjuang demi demokrasi kepada siapapun dengan harga yang rendah.” [6]. Seorang pemimpin yang mendapat pujian dari Dr. Zakir Naik [5]. Seorang pemimpin yang masuk ke dalam 500 muslim paling berpengaruh sedunia (The World’s 500 Most Influential Muslims) dan menduduki ranking 1 pada tahun 2019 [7]. Beliau adalah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Beliau pastinya bukan sosok yang sempurna. Dan mungkin masih jauh dengan pemimpin-pemimpin adil dan shalih terdahulu. Tapi di zaman ini, beliau lah salah satu pemimpin idola saya. Dan saya sangat penasaran, bagaimana perjalanan beliau mengubah Turki yang sangat sekuler warisan Mustafa Kemal Ataturk, menjadi bangkit seperti sekarang. Dan kita akan melihat bahwa itu ternyata dibuka dengan jalan PEMILU.

Bagi yang tidak tahu siapa itu Mustafa Kemal Ataturk, saya akan kupas sedikit mengenai runtuhnya Kekhalifahan Islam terakhir, yang menguasai dua per tiga dunia, yaitu Khilafah Utsmaniyyah Turki, pada tahun 1924. Dan bagaimana kemudian Turki menjadi negara sekuler melalui tangan Ataturk.

Keruntuhan itu tidak terjadi dalam satu malam. Tapi merupakan hasil dari proses panjang yang terjadi akibat akumulasi dari ditinggalkannya syariat, ditinggalkannya Bahasa Arab, lemahnya pemahaman Islam, lemahnya umat secara internal dan kuatnya persatuan pihak musuh. Musuh bersatu, sedangkan kita terpecah belah. Mereka membuat orang Turki dan orang Arab, berselisih dan bertengkar satu sama lain. Mereka berkata kepada orang Arab, “Bagaimana mungkin kalian membiarkan orang Turki, orang asing, memerintah kalian, dan mereka mengambil alih kekhalifahan, sedangkan kalian adalah orang Arab, dan Muhammad Nabi kalian adalah orang Arab, dan Al-Qur’an juga dalam Bahasa Arab. Apa kalian tidak malu?” Orang-orang Arab pun termakan dengan provokasi ini lalu muncullah Nasionalisme Arab dan Pan-arabisme. Diutuslah Thomas Edward Lawrence (Lawrence of Arabia), seorang spionis Inggris, untuk menginisiasi pemberontakan negeri-negeri Arab. Tentara-tentara Arab pun lalu bersatu dengan kekuatan asing menghancurkan Khilafah Utsmaniyah [8][9][10].

Hantaman pamungkas bagi Khilafah Utsmaniyah adalah Perang Dunia I, dimana kaum muslimin terjebak dalam perang melawan sekutu dan kalah total. Dan muncullah Mustafa Kemal Ataturk yang mengusung Nasionalisme Turki. Ataturk bekerja sama dengan Inggris agar mengakui kemerdekaan Turki. Melalui Konferensi Luzone (Treaty of Lausanne) Inggris mengajukan 4 syarat untuk mengakui kemerdekaan Turki:

  1. Hapus sistem Khilafah, asingkan Sang Khalifah dan keluarganya ke luar perbatasan, bekukan hak milik dan harta-harta milik Khalifah dan keluarganya.
  2. Turki harus berjanji untuk menekan segala gerakan yang dilakukan oleh para pendukung Khilafah.
  3. Turki harus memutuskan diri dari Islam.
  4. Turki harus mempunyai konstitusi yang sekuler.

Turki pun resmi menjadi Republik. Ataturk lalu membuat Al-Qur’an yang sebelumnya dibaca dalam Bahasa Arab, menjadi Bahasa Turki, begitu pula adzan. Al-Qur’an diletakkan di museum, di dalam kaca, bagai barang antik. Sehingga Al-Qur’an hanya menjadi dekorasi, simbol, dan bahkan jimat, bukan sesuatu yang dibaca, dipahami, dan diaplikasikan. Nama Muhammad menjadi Mehmet, dan Ahmed menjadi Ahmet. Ataturk juga menghapus jubah dan melarang sorban. Channel Cordova Media di YouTube menayangkan sebuah cuplikan ketika adzan dilarang di Turki, yang begitu menyayat hati:

Pada tahun 1945, Adnan Menderes bersama 3 orang kawannya mendirikan Partai Demokrat (Democrat Party [DP]). Pemilu demokratis yang pertama kali dilaksanakan di Turki pada tahun 1950 berhasil dimenangkan oleh DP dengan dukungan 52% suara. Kemenangan itu menjadikan Adnan Menderes sebagai Perdana Menteri ke-9 Republik Turki. Dan langkah pertama yang dia lakukan adalah mengembalikan adzan ke Bahasa Arab, setelah 18 tahun dikumandangkan dalam Bahasa Turki selama pemerintahan Ataturk. Dia juga membuka kembali masjid-masjid yang ditutup, dan mendirikan sekolah yang mengajarkan Bahasa Arab. Beserta kebijakan-kebijakan lain yang mendukung Islam. Adnan menang dalam pemilu-pemilu selanjutnya, mengalahkan partai yang didirikan Ataturk (CHP). Tapi banyak kalangan sekular yang membencinya. Mereka membuat rencana jahat untuk menjatuhkan Adnan. Pada tahun 1960, militer Turki melakukan kudeta terhadap pemerintahannya dan partainya dibubarkan. Adnan dicopot dari jabatannya dan dihukum gantung pada tahun 1961 [11].

Berpuluh-puluh tahun kemudian, pada 12 Desember 1997, muncullah Recep Tayyip Erdogan dengan puisinya [12]:

Menara masjid adalah bayonet kami
Kubah masjid adalah penutup kepala kami
Masjid adalah barak kami
Orang-orang yang beriman adalah tentara kami

Segala perubahan politik yang terjadi pada Turki saat ini, berawal dari puisi ini. Sebuah puisi yang membuat pendengarnya berteriak: ALLAAHU AKBAR! Sebuah puisi yang membuatnya dipenjara, karena dianggap berbahaya bagi negara. Namun demikian, dia begitu dicintai oleh rakyat Turki. Ini adalah pesan Erdogan sebelum masuk penjara:

Saya merasa tenang. Saya dipenjara karena pemikiran dan ide saya, karena puisi yang saya baca. Oleh karena itu, saya tetap merasa tenang. Turki di tahun 2000-an akan menjadi Turki milik kalian yang cerah dan indah. Akan tetapi kita semua harus bekerja keras untuk itu. Saya berjanji akan bekerja keras selama di dalam penjara.

Sebelum dipenjara, Erdogan adalah walikota Istanbul Raya yang terpilih melalui pemilu lokal pada tahun 1994. Sebagai walikota Istanbul, Erdogan menjadi terkenal karena beliau adalah seorang administratur yang efektif dan populis. Beliau membangun prasarana dan jalur-jalur transportasi Istanbul dan memperindah kota itu. Prestasi menonjolnya adalah keberhasilan dalam pengadaan air bersih untuk penduduk kota itu, penertiban bangunan, mengurangi kadar polusi dengan melakukan aksi penanaman ribuan pohon di jalan-jalan kota, memerangi praktik prostitusi liar dengan memberikan mereka pekerjaan yang lebih terhormat, dan melarang menyuguhkan minuman keras di tempat yang berada di bawah kontrol walikota Istanbul [13].

Membaca ini, saya koq jadi teringat gubernur DKI Jakarta Pak Anies Baswedan ya, hehe…

Setelah keluar dari penjara, Erdogan mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (Adalet ve Kalkinma Partisi [AKP]) yang berhaluan Islam pada tahun 2001. Dan AKP menjadi gerakan politik terbesar yang didukung publik di Turki. Pada pemilu 2002, AKP memenangkan dua per tiga kursi di parlemen, dan membentuk pemerintahan partai tunggal setelah 11 tahun. Erdogan kemudian menjabat sebagai perdana menteri sejak tahun 2003 hingga 2014.

Pada tahun 2014, Turki menggelar pemilihan presiden secara langsung untuk pertama kalinya setelah 91 tahun. Erdogan terpilih menjadi Presiden Turki setelah memenangi pilpres dengan perolehan suara 52%, mengalahkan dua pesaingnya. Beliau kemudian dilantik menjadi Presiden Turki ke-12 dan pelantikannya membawa era baru di Turki dan memberi semangat kebangkitan umat Islam di seluruh dunia, termasuk saya.

Di era Erdogan ini, pendidikan, ekonomi, teknologi, dan militer Turki berkembang pesat. Di masa Erdogan ini, larangan hijab dicabut dan Bahasa Arab diwajibkan untuk dipelajari di sekolah-sekolah. Erdogan menunjukkan kepeduliannya pada Gaza, Al-Quds, Suriah, Rohingya, Uyghur dan muslim tertindas lainnya. Erdogan bahkan berani mengejek Amerika di depan forum Internasional. Melakukan walk out di forum Internasional karena moderator tidak memberi waktu yang cukup bagi dia untuk menyangkal pembenaran Presiden Israel saat itu, Shimon Peres, terkait serangan di Jalur Gaza yang menewaskan sekitar 1300 warga Palestina. Sebelum meninggalkan ruangan, Erdogan menyebut Peres sebagai pembunuh.

Pada tahun 2017, Universitas Khartoum, Sudan menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa kepada beliau atas jasa-jasanya dalam kebangkitan umat Islam. Berikut pidato menyentuh dari Ali Ahmed Karti (mantan Menlu Sudan) saat penganugerahan gelar itu [14]:

“Segala puji bagi Allah yang telah menyatukan kita setelah tercerai-berai. Yang mulia, yang terhormat, Bapak Presiden Recep Tayyip Erdogan. Inilah rakyat Sudan! Inilah pemuda Sudan! Di sini mereka menunggumu. Mereka telah menyaksikan dan mendengarkan dari kejauhan. Mereka menyaksikan anda yang telah membangkitkan umat ini. Dan berdiri dengan tegap di hadapan para musuh. Mereka melihat anda merusak belenggu dan menghancurkan blokade di Gaza. Mereka melihat anda mempertahankan Al-Quds dan berdiri di hadapan para penindas di seluruh dunia. Dan anda berkata ‘TIDAK’ dan beribu-ribu kali, ‘TIDAK’.

Kami menyangka bahwa kami di sini sendirian saja, tidak dapat menemukan gema [suara] dari apa yang dahulu kami perjuangkan, namun kami menemukan seruan gema itu di Turki. Kami menemukan kembali [gema itu] setelah lama hilang. Kami melihatnya ada pada sosok Erdogan di Turki. Inilah barisan yang kokoh.

Saat ini, semakin besar kebencian mereka yang tidak menyukai Erdogan. Hari ini, Tuan Erdogan… Mereka merasakan [kembali] sejarah [kebangkitan Islam] yang telah lama berlalu. Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita, dan anda bersama kami di sini. Kita satu barisan dalam misi yang dahulu kita pernah berada di atasnya. Dan dimana saudara-saudara kita dahulu berjuang, hingga kelak kita berjumpa Allah subhaanahu wata’aala.

Negara ini [Sudan], rakyat ini dan para pemudanya telah mengorbankan puluhan ribu syuhada’ pada awal masanya. Mereka adalah pemuda yang telah terdidik untuk berjihad. Mereka sama sekali tidak peduli dengan apapun yang dunia katakan.”

Bergetar hati saya mendengar ini.

Semoga Allah selalu menjaga beliau.
Semoga suatu saat Indonesia bisa memiliki pemimpin seperti beliau.
Semoga suatu saat PKS bisa mengusung strong leader seperti beliau…

Ditulis oleh: Eka Pratama

Referensi:

  1. Kepemimpinan Yang Dipahami Dari Dalil-Dalil Syar’i Dan Ketetapan Para Ulama. Al-Manhaj.
  2. Khilafah di Bumi. Syaikh Sa’ad Al-Hushain. Al-Manhaj.
  3. Ceramah Singkat: Menyikapi Seputar Polemik PILPRES – Ustadz Badru Salam, Lc. Yufid TV.
  4. Obrolan Santai Menjelang Pemilu: Pilih Golput atau Nyoblos? – Dr. Muhammad Arifin Badri. Yufid TV.
  5. Apa kata Zakir Naik mengenai sosok Erdogan? Cordova Media.
  6. Erdogan ke Trump: Uang Anda Tidak Akan Bisa Membeli Kami. Cordova Media.
  7. The Word’s 500 Most Influential Muslims 2019.
  8. Bagaimana Khilafah Diruntuhkan. Felix Siauw.
  9. Nasionalisme Penyebab Runtuhnya Khilafah Pemersatu Umat Islam. Aditya Nugroho. Eramuslim.
  10. Fall of The Muslim Empire. Syaikh Belal Asad. Merciful Servant.
  11. Adnan Menderes, Sang Syahid Adzan dari negeri Turki. Cordova Media.
  12. Puisi yang Membuat Erdogan Dipenjara. Cordova Media.
  13. Recep Tayyip Erdoğan. Wikipedia.
  14. Pidato Menyentuh Saat Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa untuk Erdogan. Cordova Media.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.