Dari Dino Hingga Flat Earth

DARI DINO HINGGA FLAT EARTH
– Sebuah Dialog dengan Seorang Milenial Unik

Entah kenapa hari ini saya tiba-tiba teringat percakapan dengan seseorang yang unik. Seseorang yang ngga saya sangka, ternyata seorang remaja. Seseorang yang semoga Allah menunjukinya ke jalan-Nya yang lurus.

Waktu itu saya tiba-tiba aja di japri oleh beliau. Dan beginilah kurang lebih dialognya. It’s gonna be very long, ini pastinya bakalan panjang, tapi semoga bisa bermanfaat untuk para sahabat.


Milenial: Assalamualaikum. Bang, saya mau mengajukan beberapa pertanyaan di benak saya.

Saya: Wa’alaykumussalaam warahmatullaah wabarakaatuh Mas. Maaf sy baru ngeh ada chat. Ternyata masuk ke new msg request. Gimana Mas, pertanyaan apa yg bisa saya bantu. Mudah2an saya bisa bantu jawab 🙏

Milenial: Iya bang gpp. Saya lagi nyari jati diri bang, di masa muda saya merasa banyak pertanyaan pertanyaan di benak saya… Tapi pertanyaan pertanyaan itu aga berhubungan sama agama.

Saya: Alhamdulillaah… mudah2an pertanyaan2 itu awal dari hidayah Allah ya mas. InsyaAllah.
Mudah2an saya bisa bantu menjawab pertanyaan2 mas ya, biidznillaah…

Milenial: Bnyak pertanyaan yang ingin saya ajukan ke abang… Yaudah saya mulai aja, tapi sebelumnya saya minta maaf kalau agak tidak sopan ya bang.

Nah, saya pernah dengar perkataan “semua manusia dipandang sama oleh Tuhan” bahkan bisa di sebut sama rata? Yang jadi pertanyaan saya, apakah Nabi Muhammad SAW termasuk manusia spesial? Karna saya mendengar kalau belau sudah di janjikan syurga oleh Allah SWT, bahkan saat kecil(kalau gasalah dengar/baca) dada beliau pernah di belah oleh malaikat untuk diambil dosanya, yang saat kecil beliau buat?

Saya: Santai aja Mas. InsyaAllah saya jawab sebatas yg saya tahu.

Milenial: Iya bang.

Saya: Sebatas yg saya tau mas, dari tafsir Surah Al Fatihah, Allah itu memiliki sifat Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim.

Memang kalo di terjemahan Bhs Indonesianya, Ar Rahmaan itu diterjemahkan sebagai Yang Maha Penyayang, sedangkan Ar Rahim diterjemahkan sebagai Yang Maha Pengasih. Tapi kalau kita gali makna Bahasa Arabnya sebenernya lebih dalam dari itu. Kedua kata itu berasal dari kata “rahm” yang artinya cinta yang kuat, peduli, perhatian, dan murah hati.

Kata Ar Rahmaan memiliki 3 makna:

  1. Ekstrim atau melebihi ekspektasi. Sehingga Allah bukan hanya mencintai kita, tetapi sangat2 mencintai kita, bahkan melebihi ekspektasi kita sendiri.
  2. Terjadi secara langsung, saat ini, tidak perlu ditunggu.
  3. Sifatnya sementara, dan bisa terjadi sesuatu yg menghilangkannya.

Jantung kita yang berdetak sekitar 115.000 kali setiap hari. Nafas kita yang berhembus setiap saat. Adalah beberapa contoh manifestasi dari Ar Rahman. Semuanya di luar kontrol kita. Beberapa menit saja terjadi ganguan di salah satu organnya, habislah riwayat kita.

Semua manusia di dunia ini, apapun sukunya, apapun agamanya, akan mendapatkan Cinta Allah yang ini. Bagaimanapun jahatnya dia, Allah tetap berikan cinta-Nya. Cintanya bersifat ekstrim (sangat besar), sedang berlangsung sekarang, sama rata untuk siapa saja, tapi hati2, jangan macam2. Itu semua sementara. Allah bisa mencabut Cinta itu kapan saja.

Sedangkan Ar-Rahiim, memiliki 2 makna:

  1. Permanen
  2. Tidak harus sekarang

Ini Cinta Allah yang khusus untuk orang yang beriman dan bertaqwa di kehidupan selanjutnya (akhirat). Sifatnya permanen (abadi).

Jadi, dalam hal dunia, Allah memandang sama seluruh manusia. Tapi sementara aja. Sampai waktunya di dunia habis.

Tapi untuk kehidupan selanjutnya (akhirat), tidak semua manusia sama. Allah melihat ketaqwaannya, yaitu kemampuannya untuk teguh dalam mengabdikan dirinya kepada Allah. Sehingga orang yg paling baik / sukses di sisi Allah adalah yg paling tinggi taqwanya. Semakin besar taqwanya, semakin besar Cinta-Nya.

Sekarang kita masuk ke Nabi Muhammad sallallahu ‘alayhi wasallam.

Milenial: Detail ya bng, makasih nih… Nah coba bng sekarang tentng Nabi Muhammad? Saya bertanya ke yang lain/orng lain malah di bilang gapercaya sama Tuhan, hehe:(

Saya: Sama2 Mas…. 🙂 Agak panjang nih yang tentang Nabi Muhammad sallallahu ‘alyhi wasallam.

Milenial: Siap baca kok saya bang.

Saya: Nabi Muhammad sallallahu ‘alyhi wasallam itu seorang utusan yang dipilih oleh Allah untuk menyampaikan “surat cinta” dari Allah untuk manusia. Dan secara spesifik merupakan utusan yang terakhir yang dikirim. Rasul رسول itu artinya utusan, Rasulullaah رسول الله artinya utusan Allah. Kalo jaman dulu kan raja2 kalo ngirim pesan ke kerajaan atau daerah lain bakal mengirim utusan. Ya ini juga macam gitu, tapi ini bukan raja sembarang raja, tapi Raja Alam Semesta.

Nah…bagaimana Allah memilih Rasul-Nya ini yang bakal agak panjang. Saya ambil dari tulisan saya yg udah ada gpp ya.

Al-Qur’an setidaknya menggunakan 3 kata untuk “pilihan”:
1. al ikhtiyaar الاختيار
2. ishthifaa’ اصطفاء
3. ijtibaa’ اجتباء

Ikhtiyaar berasal dari kata khoyr خير yang artinya “baik”. Ikhtiyaar adalah ketika kita membuat pilihan yang baik. Atau ketika kita membuat pilihan berdasarkan kebaikan yang ada pada sesuatu.

Isthifaa’ yaitu ketika kita membuat pilihan yang berdasarkan selera pribadi, personal choice. Artinya tidak ada pihak luar yang mempengaruhi, memaksa, atau meyakinkan kita. It’s purely our own, murni dari kita sendiri.

Dan ijtibaa’ adalah pilihan yang berdasarkan qualifikasi tertentu. A choice based on qualification.

Ketika kita sedang mencoba merekrut seseorang untuk suatu pekerjaan misalnya, maka ini adalah ijtibaa’. Karena kita akan memilih dari beberapa kandidat berdasarkan qualifikasi pekerjaan yang dibutuhkan. Kita tidak akan memilih berdasarkan warna baju yang dia pakai, atau ukuran sepatunya. Yang kita lihat adalah: Is this the right person for the company to do this job? Apakah ini orang yang tepat bagi perusahaan untuk melakukan pekerjaan ini? Jika kita membutuhkan seseorang untuk mengajar misalnya, maka kita tidak akan memilih seorang mekanik. Karena kita membutuhkan seseorang dengan qualifikasi yang sesuai untuk melakukan pekerjaan ini.

Tetapi ketika kita pergi ke warung atau mini market misalnya. Kita ingin membeli coklat. Lalu kita ambil coklat merk A. Maka tidak ada yang berhak bertanya: Kenapa kamu pilih merk A? Kenapa ngga pilih merk B? Atau merk C? Kalaupun mau kita jawab, jawabannya simpel: Because I like it, karena saya suka. That’s it, itu saja.

Ketika membeli baju, kita memilih warna hijau. Kenapa ngga warna biru? Atau putih? Atau ungu? Penjelasannya singkat: Karena saya suka, that’s it. It’s purely our own, murni selera kita. Ini adalah contoh isthifaa’.

Dalam Surat Al-Hajj ayat 75 Allah mengatakan,

اَللّٰهُ يَصْطَفِيْ مِنَ الْمَلٰٓئِكَةِ رُسُلًا وَّمِنَ النَّاسِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌۢ بَصِيْرٌ

“Allah memilih para utusan(-Nya) dari malaikat dan dari manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Hajj 22: Ayat 75)

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah lah yang memilih utusan (rasul) diantara malaikat dan manusia. Allah lah yang memilih. Dan di sini yang digunakan adalah yashthofii, dari kata ishthifaa’. Artinya ini murni pilihan Allah.

Ini penting untuk dipahami, karena dulu orang Yahudi di Madinah bertanya: Kenapa Tuhan memilih orang Arab sebagai rasul? Kenapa bukan orang Yahudi?

Segolongan yang lain bertanya lagi: Tunggu, malaikat mana yang membawakan wahyu? Jibril? Ehm… kita punya masalah dengan dia di masa lalu, no thanks.

Begitupun orang Quraisy dulu bertanya: Kenapa Al-Qur’an ini tidak turun kepada salah seorang tokoh ternama, orang yang berpengaruh, pemimpin suku, atau orang kaya di Mekkah? Kalau mereka yang dipilih, pasti kita mau mendengarkan. Kenapa Allah memilih seorang yatim? Seseorang yang tidak punya status politik?

Mereka mempertanyakan pilihan Allah. Padahal pertanyaan sesungguhnya adalah: Memangnya Allah perlu konsultasi dulu kepada mereka sebelum memilih?

Ayat ini menjelaskan, beginilah proses Allah dalam memilih utusan (rasul) -Nya. Allah melakukan tindakan ishthifaa’. Ini murni pilihan-Nya. Kita punya hak apa terhadap pilihan ini? None, tak ada sama sekali. Kita tidak punya hak apapun untuk mempertanyakan pilihan-Nya. Dan Allah tidak berhutang penjelasan apapun atas pilihan-Nya.

Allah telah memilih Jibril ‘alaihissalam dan Rasulullah Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kita tidak punya hak apapun untuk bertanya kenapa. Allah telah memilih, and I’m happy. That’s it.

Sekali lagi, ini adalah proses bagaimana Allah memilih rasul. Ayat selanjutnya (ayat 78) akan menjelaskan bagaimana Allah memilih saya, kamu, kita semua untuk menjadi seorang MUSLIM. Karena kita menjadi muslim bukan karena orang tua kita muslim, atau keluarga kita muslim, atau karena kita hidup di negara mayoritas muslim, nope. Begitu banyak mereka yang lahir di keluarga muslim tapi kehilangan keyakinannya, sadar ataupun tidak sadar. Kita menjadi muslim karena Allah lah yang memutuskan. ALLAH CHOSE US, ALLAH MEMILIH KITA. Every single one of us.

Ini yang epic.

Allah mengatakan dalam ayat 78,

وَجَاهِدُوْا فِى اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهٖ ۗ هُوَ اجْتَبٰٮكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ ۗ

Wajaahiduu fillaahi haqqo jihaadihii, Huwajtabaakum wamaa ja’ala ‘alaykum fiddiini min haroj.

HUWAJTABAAKUM. Allah memilihmu.

Wow… Ijtibaa’? Suatu pilihan berdasarkan kualifikasi?

Allah memilih saya, kamu, kita semua berdasarkan qualifikasi tertentu, really? Kita punya qualifikasi tertentu, apa iya?

Yup. Al-Qur’an yang mengatakan.

Seperti misalnya kita berada dalam suatu wawancara kerja. Pekerjaannya mengenai programming misalnya. Dan kita tidak punya pengalaman atau pengetahuan dalam programming sama sekali. Karena misalnya kita sedang desperate untuk mencari pekerjaan apapun. Kita hanya kirim resume kita ke semua lowongan yang ada. Dan ternyata mereka memanggil kita. Kita dipanggil dan duduk dalam suatu interview. Kemudian interviewer menjelaskan bahwa pekerjaan ini adalah untuk posisi Lead Programmer, dengan pengalaman 10 tahun, paham C++, Java, bla…bla…bla…

Seiring penjelasan interviewer yang terus-menerus tentang posisi itu, kita hanya bisa speechless. Dari 1 menit pertama sudah jelas bahwa kita ngga punya qualifikasi sama sekali untuk pekerjaan ini. Yang ada kita semakin terintimidasi dan ingin cepat-cepat keluar dari ruangan karena sudah cukup malu dengan ini. Tapi si interviewer terus saja menjelaskan job description nya.

Akhirnya yang meng-interview selesai menjelaskan dan mengatakan:

So, congratulation! You start tomorrow. Jadi , selamat! Kamu mulai kerja besok.

Dan kita garuk-garuk kepala. Serius Pak? Saya?

Si interview mengatakan: Tenang Mas, saya tahu Mas pasti berpikir Mas ngga qualified untuk pekerjaan ini. Tapi saya sudah melakukan ini bertahun-tahun. Saya tahu Mas pasti bisa. Saya bisa tahu seseorang itu cepat belajar atau ngga ketika saya melihatnya. Mas mungkin berpikir Mas ngga akan survive, tapi pengalaman saya mengatakan bahwa Mas bisa jadi pegawai yang berprestasi. Saya percaya sama Mas.

Si interviewer percaya kepada kita melebihi kepercayaan kita kepada diri kita sendiri.

Sekarang mari kita kembali ke Surat Al Hajj ayat 78.

Apakah ada dari kita yang bersyukur kepada Allah selayaknya Dia disyukuri? Adakah yang memuji Allah selayaknya Dia dipuji? Adakah yang mengingat Allah selayaknya Dia diingat? Nope. Tidak ada.

Allah mengatakan, inilah job description nya, wajaahiduu fillaahi haqqo jihaadihii. Berjuanglah di jalan Allah, tanpa tujuan apapun kecuali Allah, seperti selayaknya Dia diperjuangkan. Struggle like He deserve it. Apakah ini job description yang mudah atau sulit?

This is an impossible job description. Ini adalah deskripsi pekerjaan yang mustahil untuk dilakukan. Tak ada yang bisa melakukan haqqo jihaadihii. Struggle like it worthy of Me, Allah mengatakan. It’s impossible.

Dengan mengatakan ini di awal ayat, secara definisi Allah telah membuat kita tidak memenuhi syarat untuk pekerjaan ini. Un-qualified for this job.

Ketika kita hampir mau keluar ruangan karena merasa tidak memenuhi qualifikasi, Allah mengatakan: HUWAJTABAAKUM. Dia, berdasarkan qualifikasi-mu, telah memilihmu.

Eeemm…saya ngga bisa. Ngga mungkin bisa. Saya bahkan ngga bisa melihat qualifikasi apapun dalam diri saya sendiri.

Allah mengatakan: Wamaa ja’ala ‘alaykum fiddiini min haroj. Tenang…Allah tidak menaruh kesulitan apapun di dalam agama ini sama sekali. Tenang…Allah akan membuatnya mudah. Memang Allah menyebutkan suatu job description yang mustahil, dan Allah telah memilih kita, tapi… Tenang, by the way, Allah will make it easy, Allah akan membuatnya mudah.

Fiuuhh…ok. Walaupun job description nya mustahil, Allah akan membuatnya mudah. Ok baiklah…kita bisa tenang sedikit kalau begitu.

Allah kemudian meneruskan dalam menjelaskan job description nya.

مِلَّةَ اَبِيْكُمْ اِبْرٰهِيْمَ ۗ

Millata abiikum ibroohiim. By the way, you will be on the same path, on the same legacy, on the same struggle, like your father Ibrahim. Kamu akan ada di jalur yang sama, di perjuangan yang sama, seperti bapakmu Ibrahim.

Baru saja Allah mengatakan bahwa it’s not gonna be hard at all, ini sama sekali tidak akan sulit, lalu Dia mengatakan: You will be just like Ibrahim. Kamu akan persis seperti Ibrahim.

Ookaay…? Meloncat ke dalam api? Ambil pisau, panggil anak kita, lalu taruh dan arahkan pisaunya ke leher anak kita? Mengatakan kebenaran kepada ayah yang musyrik, lalu diusir dari rumah? Berdiri melawan penguasa lalim? Menaruh keluarga kita, di tengah-tengah gurun pasir? Apakah hal-hal ini terdengar mudah?

Meloncat ke dalam api mungkin kalau kita cukup nekat, masih bisa terbayang. Tapi menaruh pisau di atas leher anak kita? Kita tidak bisa membayangkan, bagaimana cara melakukannya. Jauh di luar kemampuan kita. Jangankan itu, membawa istri kita dan anak kita yang masih bayi, ke tengah padang pasir, lalu meninggalkan mereka di sana? Apakah ini terdengar mudah?

Tentu saja tidak. Dan semua sepertinya tidak mungkin dilakukan. Dan ketika ada yang mampu melaksanakan semuanya dengan ikhlas, itu adalah sesuatu yang benar-benar luar biasa.

Lalu sekarang perjuangan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sedang dibandingan dengan perjuangan kita. Perjuangan kita ngga ada apa-apanya.

Pelajaran yang bisa diambil dari ayat ini benar-benar luar biasa. Allah sedang mengatakan kepada kita dalam ayat ini. Jika Allah bisa membuat sesuatu yang mustahil menjadi mudah bagi Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, apa yang mungkin bisa kita keluhkan? Alasan apa yang kita punya? Apakah kita perlu melompat ke dalam api? Apakah Allah menyuruh kita itu?

Apa yang Allah minta dari kita sekarang tidak ada apa-apanya. Allah tidak meminta banyak dari kita. Jika Allah bisa membuat perjuangan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang mustahil menjadi mudah , apalagi perjuangan kita. Subhaanallah…

Poin penting di sini adalah bahwa every single muslim, setiap muslim, apakah itu yang terlahir dari keluarga muslim maupun yang baru kemudian masuk ke dalam Islam setelah bersyahadat, Allah saw something in them. Allah melihat sesuatu dalam diri saya, kamu, kita semua, yang layak untuk diperjuangkan.

Otherwise, we wouldn’t have the honor to say,

Jika tidak, kita tidak akan pernah memiliki kehormatan untuk mengatakan,

LAA ILAAHA ILLALLAAH… MUHAMMADARROSUULULLAH…

Kata ini bukanlah kata-kata yang murah. Ini adalah anugrah dari Allah. Dan tidak diberikan secara gratis. Kita harus mencari tahu, apa yang Allah lihat dalam diri kita, yang bahkan mungkin kita belum bisa melihatnya. Karena itu pasti ada di sana. Karena Allah mengatakan ijtabaakum.

Dan setiap individu memiliki sesuatu yang berbeda. Memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Ada yang berbakat dalam penelitian, atau dalam administrasi, atau dalam menulis, dalam dunia pendidikan, dan lain sebagainya. Temukanlah apa kelebihan kita.
Temukanlah dan pastikan kita menggunakannya untuk agama ini. Pastikan kita menggunakannya untuk kebaikan agama ini. Utilize everything that we have been given, for the good of His religion.

Jadi Nabi Muhammad sallallaahu ‘alayhi wasalaam memang mungkin bisa dibilang manusia spesial. Karena tugasnya juga spesial. Super berat tugas dan misi beliau.

Dan mengenai pembelahan dada sewaktu beliau kecil juga betul. Karena diriwayatkan dalam hadits shahih (H.R. Imam Muslim).

Milenial: Saya banyak berterimaksih bang udah jelasin secara rinci nih… Saya hanya bisa diam dan bersyukur karna ada orang yang mau jelasin kaya gini. Terimakasih lagi udah jelasin, saya gabisa ngasih apa apa, cuman Allah yang bisa bales… Mungkin lain waktu saya akan menanyakan pertanyaan pertanyaan lagi bang. Boleh kan saya share bang? Saya screenshot hasil percakapannya, saya kirim ke orang yang punya pertanyaan sama seperti saya?

Saya: Alhamdulillaah… sama2 Mas. Oh ya, saya ke mesjid dulu ya, setelah maghrib/isya insyaAllah saya sambung lagi ya kalo masih ada pertanyaan.

Milenial: Iya bang.

Saya: alhamdulillah…. saya ikut bersyukur kalau apa yang saya tulis bisa ngebantu Mas. InsyaAllah, selama saya bisa, dan sebatas yang saya tau, kalo Mas ada pertanyaan, kontak saya aja ya.

Silahkan mas kalo mau dishare. Semoga bisa membantu bagi siapa aja yang membutuhkan 🙏

Milenial: Assalamualaikum bang, saya punya pertanyaan lagi nih… Abang tau dinosaurus kan? Pasti dong… Nah, di Al quran kan dunia dan seisinya sudah di tuliskan… Apakah dinosaurus ada di tuliskan disana? Apakah dinosaurus adalah bangsa jin? Yng Allah ciptakan sebelum nabi adam? Saya tunggu jawaban menariknya dari abang, makasih.

Saya: Wa’alaykumussalaam warahmatullaah wabaraakaatuh Mas. Maaf br bales, baru pulang dr perjalanan 🙏

Hehe…pertanyaan menarik. Jawabannya bakal panjang nih 😄

Sebelum bahas Dinosaurus, nanti sy mau bahas konsep sains dulu. Dan bagaimana para ilmuwan bisa berkesimpulan bahwa ada yg namanya dinosaurus.

Milenial: Iya bang santai, tapi kalo abangnya cape gpp nanti aja, saya gamau ngeberatin abang.

Saya: Terus sebelumnya juga mau sedikit mengklarifikasi Mas. Bahwa Al-Qur’an itu ngga berisi dunia dan seisinya. Al-Qur’an itu petunjuk untuk untuk umat manusia. Semua mesin kompleks yang dibuat di pabrik kan pasti punya Instruction Manual, Petunjuk Penggunaan yang dikeluarkan dari pembuatnya. Yang berisi berbagai macam hal yg perlu kita ketahui utk mengoperasikan atau memelihara mesin itu. Kalo kita ngga ngikutin perintah/petunjuk yg ada Instruction Manual, mesinnya bisa jadi cepet rusak, atau malah bisa rusak prematur.

Nah, kalo mesin biasa aja punya instruction manual, apalagi “mesin” sekompleks manusia? 😊
Itulah Al-Qur’an. Instruction Manual buat manusia. Dibuat sama Yang Menciptakan manusia.

Kalo kata Dr. Zakir Naik, Al-Qur’an is a book of SIGN, not a book of SCIENCE 😊

Kalo tempat dimana segala hal dituliskan, itu namanya Lauh al-mahfudz لوح المحفوظ . Itu Kitab dimana segala hal dituliskan. Adanya di sisi Allah. Penjelasan tentang Sains & Dinosaurusnya insyaAllah setelah Isya ya mas 🙏🙏

Milenial: Hmmm, jadi saya salah mengira ya, kalau Al quran itu ternyata sebenarnya petunjuk, bukan isi dari semua di alam semesta… Hehe, jadi merasa berdosa, makasih juga udah ngasih tau. Iya bang gpp, saya tunggu kok, lagian takutnya abang capek…

Btw gausah panggil mas, aku masih 14 tahun:v
Pangil adik aja/ade.

Saya: Wah saya kirain seumuran saya 😀 Kalo gitu saya panggil Bro aja ya.

Milenial: Wkwkwk

Saya: Oya sedikit lagi tambahan tentang Al-Qur’an. Seperti yang dijelaskan tadi, Al-Qur’an itu adalah petunjuk. Al-Qur’an berisi ayat-ayat.

Mungkin ketika mendengar kata “ayat”, yang terbayang itu mungkin seperti kata “ayat” dalam perundang-undangan. Misalnya pasal sekian, ayat sekian. Jadinya kata “ayat” cuma terbayang sebagai suatu list atau urutan. Ayat 1, 2, 3, dst.

Padahal kata آيَة dengan bentuk jamaknya آيَات artinya adalah “tanda” atau “tanda-tanda”. Yaitu indikasi atau bukti atas sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Kata ayat juga berarti “pesan” atau “komunikasi” dan kadang berarti “contoh” atau “pelajaran”. Dan kata ayat juga mengacu pada suatu “keajaiban” atau “mu’jizat” seperti halnya mu’jizat yang diberikan kepada para Nabi, sebagai bukti kebenaran mereka. Atau mengacu pada sesuatu yang berharga, luar biasa, sesuatu yang mengundang perhatian dan rasa penasaran.

Milenial: Iyaiya, jadi lebih ngerti saya.

Saya: OK. Sekarang kita bahas tentang sains dulu, sebelum bahas dinosaurus. Karena permasalahan dinosaurus ini ngga terlepas dari kaidah sains dalam mengekplorasi dunia ini.

Kebanyakan dari kita di zaman ini, mungkin terjebak dengan pemahaman bahwa sains itu sama dengan realitas. Padahal sains hanyalah pengetahuan akumulatif yang dimiliki manusia hingga saat ini, dan merupakan usaha terbaik manusia dalam memahami realitas. Sains terus berubah seiring pemahaman terhadap realitas menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi. Sains memiliki keterbatasan karena hanya mengandalkan panca indra, plus bantuan alat-alat untuk mempertajam indra tersebut. Sedangkan realitas, is far more than that, jauh lebih kompleks dari itu.

Ada 2 jenis sains:
1. Sains yang sudah menjadi fakta, yaitu sains yg kebenarannya sudah terbukti dan bisa di-verifikasi. Contoh dalam Fisika misalnya, persamaan gerak jatuh bebas suatu benda yang dirumuskan dengan vt = v0 + at. Ini semua orang juga bisa bikin eksperimen sendiri untuk membuktikan apakah rumus ini bener atau ngga. Dan terbukti bener.
2. Sains yang masih teori. Merupakan dugaan terbaik yang dimiliki berdasarkan temuan2 yang ada. Sifatnya masih belum sempurna. Masih kaya puzzle. Seiring ada temuan2 baru, teorinya bisa berubah, direvisi, bahkan ternyata terbukti salah. Contohnya dalam Fisika misalnya, teori tentang aether. Bahwa aether merupakan medium dimana cahaya merambat melaluinya. Teori ini terlihat logis di akhir tahun 1800an. Tapi dibuktikan salah dengan eksperimen Michelson-Morley.

Jadi, kita harus cerdas memahami mana sains yang udah menjadi fakta, dan mana yang masih teori.

Milenial: Iya bang.

Saya: Nah, dinosaurus itu masuk ke kategori sains yang mana kira2? 🙂

Yang pasti ngga ada manusia di zaman ini yang pernah liat dinosaurus hidup kan? Kecuali di film (hehe). Jadi koq bisa para Paleontolog tau bahwa dulu pernah ada dinosaurus?

Milenial: Nah iya bng, kok bisa gitu.

Saya: Yang pasti mereka nemuin fosil tulang2nya. Dan kadang2 rangka lengkapnya. Ini fakta.

Tapi bagaimana tampilan luarnya, kulitnya/bulunya, gimana mereka bergerak, apa makanan mereka, dll merupakan hasil dari dugaan terbaik (educated guess) dari para Paleontolog berdasarkan perbandingan rangka dinosaurus dengan binatang saat ini. Nah ini masih teori. Jadi semua penampakan dan pergerakan dinosaurus yg ada di film2, itu semua belum tentu bener 🙂

Milenial: Nj*r, kok ga kepikirn yaa.

Saya: Nah sekarang gimana Islam memandang keberadaan dinosaurus?
Sejauh yang saya tau, saya ngga menemukan satu bukti pun baik dari Al-Qur’an maupun dari Hadits yang menyebutkan secara spesifik tentang binatang ini. Walaupun terdapat ayat Al-Qur’an yang dipahami oleh sebagian ulama bahwa ada makhluk yang tinggal di bumi ini sebelum kehadiran Nabi Adam ‘alayhissalam.

Sejauh yang saya teliti bertahun-tahun ini, saya belum menemukan fakta sains yang bertentangan dengan apa yang disebutkan di dalam Al-Qur’an. Bahkan justru apa yang disebutkan Al-Qur’an sangat sejalan dengan penemuan fakta terbaru di dalam sains, yang menjadi salah satu bukti kebenaran Al-Qur’an.

Ketika ada sains yang terlihat seperti bertentangan dengan Al-Qur’an, biasanya itu karena ketuker-tuker antara fakta dan teori. Kalo masih teori, dan terlihat bertentangan, ya ngga bisa dibandingkan lah ya. Kan namanya juga masih teori. Masih educated guess.

Juga jangan menganggap bahwa Al-Qur’an itu science book (buku sains) yang berisi segala hal tentang sains. Seperti yang tadi dijelaskan, Al-Qur’an itu adalah petunjuk untuk manusia. Yang juga berisi tanda-tanda kebesaran Allah dan mengandung kebenaran sains, sebagai bukti kebenarannya. Tapi inti pokok isinya adalah petunjuk untuk manusia.

Semoga bisa menjawab pertanyaannya ya bro 🙂

Pengetahuan tentang realitas alam semesta ini, dari jutaan tahun yang lalu sampai sekarang, memang terlalu kompleks untuk dijejalkan ke otak kecil kita yang terbatas ini bro. Allah sudah memilah-milah, mana informasi yang penting buat kita, dan mana yang ngga penting. Apa yang Allah turunkan dalam Al-Qur’an dan sunnah utusan-Nya, itulah yang penting kita tahu, supaya bisa jadi manusia yang sukses di dunia ini, dan di kehidupan setelah ini. Apa2 yang masih menjadi misteri, yang Allah ngga kasih tau, berarti memang ngga penting buat kita. Atau ngga menentukan sukses ngganya kita, terutama di akhirat nanti. Setuju ngga? 🙂

Milenial: Jadi seperti dinosaurus / bangsa jin yang tinggal di bumi sebelum/seudah Nabi adam tidak usah kita ketahui? Karna memang karena tidak membantu kita dituntun ke surga ya bang?

Karna ada yang lebih penting seperti melancarkan membaca Al qur’an dengan tajwidnya, dan memerbaiki ibadah lainnya?

Tapi mengapa Allah ciptakan mereka yang tidak seharusnya kita ulik?
Apakah Allah juga merasakan bosan?
Maaf bang kalo kurang ajar pertanyaan saya.

Saya: Santai aja bro… saya dulu juga di masa pencarian sy, pertanyaan2 juga liar2, hehe. Alhamdulillah, Allah berikan petunjuk, selangkah demi selangkah, sehingga kebenaran benar2 terlihat jelas 🙂

Kalo bangsa Jin justru banyak dibahas di Al-Qur’an dan hadits. Karena memang penting buat kita untuk mengenal mereka, supaya jangan sampai kita manusia, malah jadi menyembah mereka atau meminta tolong kepada mereka atau disesatkan oleh mereka.

Sedangkan dinosaurus, tidak disebutkan, krn memang kita ngga akan berinteraksi dengan mereka. Kalo mempelajari sih pastinya ngga ada salahnya. Hukum termodinamika juga kan ngga disebutkan di Al-Qur’an, tapi sangat boleh dipelajari dan bisa bermanfaat buat bikin turbin yang bisa menghasilkan listrik 🙂

Milenial: Hmmm… Iyaiya jelas sekarang bang.

Saya: Memang pentingnya membaca Al-Qur’an, dan terus memperbaiki bacaannya, tajwidnya, pemahamannya tafsirnya, bahasa arabnya, beserta ibadah yg lain, belum akan terasa ketika kita belum paham penuh tentang tujuan hidup kita.
Selama kita belum bisa menjawab pertanyaan2 seperti:
Kenapa saya ada di dunia ini?
Buat apa sih hidup ini?
Setelah mati saya bakal ke mana?
Siapa sih yang menciptakan saya?
Apa sih yang Dia inginkan dari saya?

Milenial: Wawasan saya jadi nambah luas, dan bisa meluruskan pertanyaan seperti itu.

Oh iya… Saya mau nanya imi bang… Saya pernah dengar yang kalau gasalah “dihamparkan bumi, dan gunung gunung sebagai paku/apalah” saya lupa. Tapi karna ayat tersebut jadi malah menjadi pemahaman flat earth dalam segi islam?

Saya: Ohya, sebelum ke flat earth. Tadi yg mengenai apakah Allah bosan?
Mungkin sedikit sy bahas.

Segala hal tentang Allah, baik itu sifatnya, dsb. Hanya Allah yang berhak mendeskripsikannya. Krn gmn bisa makhluk terbatas seperti kita, mendeskripsikan Sang Pencipta Yang Maha Segalanya.

Al-Qur’an adalah perkataan Allah yang disampaikan melalui utusan-Nya. Di situ Allah sudah menjelaskan sifat2-Nya dan apa2 saja yang perlu manusia ketahui tentang diri-Nya. Atau juga dari apa2 yang diberitahukan oleh utusan-Nya (Nabi Muhammad sallallaahu ‘alayhi wasallam)

Dan dari kedua sumber itu, Al-Qur’an dan Sunnah, tidak pernah saya temukan bahwa Allah bisa merasa bosan. Allah tidak tidur dan tidak pernah merasa lelah. Dia tidak sama dengan makhluk-Nya. Tidak ada satu pun di alam semesta ini yang setara dengan Dia.

Milenial: Owh iyiaya saya ngerti, jadi inget “sebenarnya aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui? ” eh bener gak sih:v

Saya: Nah…kalo tentang the famous flat earth theory bakal puanjaang nih, haha. Kita sambung besok aja yak bro, insyaAllah. Biar besok pagi ngga telat pergi shalat subuh ke mesjid 🙂

Milenial: Yaudh bang gpp, saya jadi gaenak nih banyak tanya. Btw makasih ya bang penjelasannya.

Saya: Maaf baru bales bro. Santai aja… no problemo.

Okeh, sekarang kita bahas masalah flat earth theory. Inget ya bro, ini tuh statusnya teori. Teori yang sebenernya sudah dibuktikan salah dengan bukti yang begitu banyak. Memang sih salah satu argumen flat earther itu adalah bahwa NASA dan seluruh astronot itu berkonspirasi dan berbohong ke seluruh dunia. Well, to be honest bro, membayangkan semua astronot dan ilmuwan, yang bahkan pernah ke stasiun luar angkasa secara langsung, dan ngeliat dengan mata kepalanya sendiri, ngambil video & foto, bumi yang bulat. Bahwa mereka semua berbohong, itu cara berpikir yang aneh sih menurut saya. Dan yang udah pernah ke luar angkasa itu bukan cuma NASA, Rusia, China dan negara2 lain juga pernah. Dan mereka semua sepakat untuk berbohong?

Anyway, katakanlah mereka berbohong misalnya, sehingga kita ngga bisa percaya semua rekaman video & semua foto yg kita lihat bahwa bumi itu bulat. Misalnya ini mah. Ada beberapa bukti yang bisa kita verifikasi sendiri secara langsung, bahwa bumi itu memang bulat, bukan flat:

1. Satelit. Udah ada ribuan satelit yang diluncurkan oleh berbagai negara dan sekarang mengorbit bumi. Kalo bumi ngga bulat, satelit ngga akan bisa mengorbit. Dan kita kagak mungkin bisa chat via FB messenger kaya sekarang. Ga mungkin bisa pake Google Maps, karena GPS menggunakan prinsip Trilateration supaya bisa berfungsi, dimana setidaknya harus ada minimal 4 satelit GPS yang ‘visible’ pada setiap saat.
2. Kita bisa beli teropong bintang yg murah, atau pergi ke Observatorium Bosscha, terus amati semua planet2 dan bintang2. Seperti apakah bentuknya? Adakah yang datar? Sejauh yang saya amati, semua bentuknya bulat. Terus kenapa bumi lain sendiri datar, seandainya teori flat earth bener?
3. Pergi ke pelabuhan, bawa teleskop. Amati kapal yang sedang menjauh atau mendekat. Kita bakal mengamati kapal yang menjauh itu, lama2 cuma bagian atas kapal aja yang bisa kita liat.

Dan masih banyak lagi sebenernya butkti2 yang lain.
Walopun memang, kalo berhadapan sama flat earther, itu pasti aja mereka berkelit macem2. Termasuk pake dalil ayat Al-Qur’an, hadeeuh… Susahnya cara berpikir mereka itu cara berpikir “What if…” bukan cara berpikir “What is…”

Tapi anyway, sekarang kita bahas sebenernya apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

Sejauh yang saya teliti, dan juga dari buku2nya Dr. Zakir Naik, saya ngga menemukan 1 ayat pun yang secara eksplisit menyebutkan tentang bentuk bumi. Yang ada adalah ayat2 yang mengatakan bahwa bumi itu dihamparkan.

Nah pertanyaannya, apakah menghamparkan sesuatu itu cuma bisa di bidang datar? Apakah kita ngga bisa menghamparkan sesuatu di bidang lengkung? Hehe.

Menghamparkan karpet misalnya. Kan bisa aja di tempat yang datar. Jadinya karpetnya datar. Bisa juga di bidang lengkung, misalnya di gundukan tanah. Jadinya karpetnya juga ikut melengkung.

Nah, sekarang mari kita liat salah satu ayat Al-Qur’an yang menyatakan bumi itu dihamparkan. Misalnya Surat An-Nazi’at ayat 30:

وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا
“Dan bumi sesudah itu, Dia menghamparkannya”

Kata دحا (dahaa) itu artinya “menghamparkan”.

Lalu misalnya di dalam Surah Nuh ayat 19-20:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا
“Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan”

لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا
“supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu”

Kata بساط (bisaat) itu artinya “hamparan” atau “karpet”.

Ngga ada satu pun ayat yang mengatakan الأرض مسطحة (al-ardhu musaththahah), bumi itu datar. Ngga ada. Adanya ya itu, “bumi itu dihamparkan” atau “bumi itu hamparan (seperti karpet)”.

Nah balik lagi ke pertanyaan awal, apa hamparan itu harus datar? Hehe.

Dan sebenernya penggunaan kata “hamparan” atau “karpet” ini luar biasa presisi. Subhaanallaah. Dari ilmu geologi kita bisa mengetahui bahwa kita ini sebenernya tinggal di atas kulit atau kerak bumi yang terhampar. Tanah tempat kita berpijak ini sebenernya relatif “tipis” ketimbang diameter bumi. Kita menyangka tanah tempat kita berpijak ini padat aja terus sampai ke pusat bumi, padahal yang bentauknya padat hanya di lapisan luarnya aja, atau di keraknya. Di bagian bawahnya itu sebenernya semi cair (macam lava). Makanya kalau gunung meletus mengeluarkan lava.

Kita ini sebenernya tinggal di lapisan paling luar bimi yang disebut litosfer atau kerak bumi. Ketebalannya hanya sekitar 20-70 km. Bandingkan dengan lapisan di bawahnya yaitu lapisan astenosfer yang tebalnya sekitar 2800 km dan merupakan bagian terbesar, yaitu sekitar 83% volume bumi. Dan seperti yang tadi dibilang, lapisan astenosfer ini merupakan material yang berfasa semi-cair.

Jadi, sebenernya kerak bumi ini meirip suatu karpet luas yang mengapung / floating di atas lapisan astenosfer yang semi-cair. Di sinilah gunung-gunung memiliki peran penting dalam menstabilkan kerak bumi. Gunung-gunung seperti pegunungan Himalaya, memiliki “akar-akar” atau roots yang menembus jauh ke dalam bumi. Semakin tinggi suatu gunung dari permukaan tanah, semakin dalam pula akarnya yang menghujam ke bawah hingga menembus seluruh bagian kerak dan mengapung di atas astenosfer yang semi-cair, lunak, dan memiliki temperatur sangat tinggi. Tertancapnya akar gunung ini menyebabkan melambatnya pergerakan lempeng kerak bumi. Itulah fungsi gunung sebagai pasak pencegah goncangan.

وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.”
(Surah Al-Anbiya ayat 31)

Dan ayat ini diturunkan 1400 tahun yang lalu, di padang pasir yang tandus, melalui Nabi yang ummi (tidak bisa baca), jauh sebelum Ilmu Geologi Modern berkembang. Subhaanallaah.

Masalah gunung penstabil kerak bumi ini lumayan dibahas di buku Perjalanan Mencari Kebenaran. Mau? Kalo mau, saya minta alamat bro aja. Nanti saya kirim.

Milenial: Sumpah bang, saya kagum sama abang… Bisa ngejawab pertanyaan saya, dan jawabannya itu logis.

Btw harga bukunya berapa, saya tertarik.

Saya: Alhamdulillah… Allah yang memudahkan bro. Allah lah yang harus kita kagumi. Saya mah bukan siapa2, only His slave. Buat bro mah gratis 😊

Milenial: Loh kok gratis sih. Saya jadi gaenak. Tapi di buku itu insyaallah lengkap ada pertanyaan pertanyaan yang sering di jadiin perdebatan?

Saya: Gpp bro santai aja. Sy emang ada program free give away khusus para pemuda yg curious 😊

Buku itu nyeritain masa pencarian saya dulu. Lengkap sih ngga. Cuma pertanyaan2 besarnya aja.

Kalo ada pertanyaan2 lain mah, feel free utk kontak sy. Ga janji bisa jawab juga sih. InsyaAllah yg sy tau pasti saya jawab.

Milenial: Yaudah deh kalau abang kekeu ngasih ke saya… Saya cuman bisa berterimakasih, semoga rezekinya di lancarkan Allah SWT.

Oh iya, ibu saya nitip salam… Dan saya ngechat abang karna pemberitahuan dari ibu saya juga:)

Saya: Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin… Wa’alayhassalaam…
I see… baru paham sekarang. Alhamdulillaah…

Milenial: Alhamdulillah. Makasih banyak bang. Saya jadi gaenak, udh banyak tanya, eh malah diksih buku.

Sampe segininya abang sama, saya. Semoga Allah membalas kebaikan abang ya:’)

Saya: Alhamdulillaah… udah nyampe 😃
Semoga bukunya bisa memberi manfaat ya bro. Ngga usah ngga enak, bro. Ini emang udah panggilan hidup saya 
🙂
Berbagi pengalaman sama siapa aja yg punya pertanyaan yang sama, atau sejenis.
Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin…

Milenial: Sumpah bang, bukunya keren… Antara sains dan Al quran nya logis. Semoga bisa mengembalikan saya ke jalan sang pencipta.

Saya: Alhamdulillaah…
يهديك الله
Semoga Allah selalu membimbing bro…


Semoga Allah senantiasa berikan hidayah-Nya kepada para pencari kebenaran.
Kepada kita semua.
Agar selalu istiqamah di jalan-Nya…

Ditulis oleh: Eka Pratama

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. sunarno says:

    alahmadulillah, sangat bermanfaat. dengan bahasa yang mengalir riang. bumi datar memang sempet ramai jadi perbincangan anak-anak. trim kasih dan mohin ijin untuk mengcopy postingannya

    Like

    1. Eka Pratama says:

      Alhamdulillaah… semoga tulisannya bermanfaat ya Mas. Silahkan mas, feel free utk share.

      Liked by 1 person

      1. sunarno says:

        trima kasih mas

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.