Asertif – Titik Optimal di Antara Agresif dan Pasif

Image by PublicDomainPictures from Pixabay

Dalam hubungan antar sesama, pastinya kita sudah familiar dengan kata ‘agresif’ dan kata ‘pasif’. Tapi bagaimana dengan ‘asertif’? Mungkin belum semua familiar dengan itu ya. Simply speaking, asertif adalah titik optimal di antara agresif dan pasif. Dalam berkomunikasi dengan orang lain, kita harus berusaha sebisanya untuk menjadi asertif.

Nah, menjadi asertif itu rill nya kaya gimana sih?

Pastinya saya bukan orang yang memiliki kapasitas untuk membahas cara berkomunikasi secara asertif dalam konteks politik, hehe..
Tapi in syaa Allah saya punya referensi yang bagus tentang cara berkomunikasi secara asertif dalam konteks belajar-mengajar. Yang sangat mungkin bisa diterapkan juga dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam berkeluarga dan bertetangga.

Mari kita simak penjelasan dalam buku “A Handbook for Classroom Management that Works” oleh Robert J. Marzano et al.

Mas Marzano menjelaskan bahwa berdasarkan research, ada 5 jenis gaya komunikasi:

  1. The Assertive Connector (Penghubung yang Asertif)
  2. The Apathetic Avoider (Penghindar yang Apatis / Cuek)
  3. The Junior Therapist (Ahli Therapi Amatiran)
  4. The Bulldozer (Buldozer)
  5. The Hider (Penyembunyi)

Dan berikut ini ciri-cirinya masing-masing ketika sedang berbicara dengan orang lain. Dan ini pastinya khusus sesama ikhwan atau sesama akhwat, bukan untuk yang bukan mahram.

The Assertive Connector (Penghubung yang Asertif)

  • Ketika sedang berbicara dengan orang lain, tidak menyambinya dengan aktivitas lain (mis: sambil WA atau buka FB).
  • Menghadap lawan bicara dan konsisten dalam kontak mata
  • Bisa ‘mencerminkan’ perasaan lawan bicara; contohnya, kalau lawan bicara sedih, ekspresinya wajah pendengar juga mencerminkan kesedihan.
  • Bisa menghabiskan waktu yang kurang lebih sama, antara berbicara dan mendengarkan.
  • Bisa mengekspresikan perasaan secara tepat.
  • Menggunakan bahasa tubuh yang sesuai dengan perasaan yang sedang dikomunikasikan.
  • Meminta klarifikasi atau elaborasi; selalu bertanya secara sopan.
  • Berusaha untuk memahami penuh isi dan perasaan yang sedang diekspresikan oleh lawan bicara.
  • Mengulangi apa yang dikatakan lawan bicara, untuk memastikan kita paham.
  • Bisa mengekspresikan persetujuan, ketidaksetujuan, atau netralitas.
  • Berinteraksi dalam percakapan secara win-win dengan niat untuk berusaha menyambungkan ‘benang merah’ dengan lawan bicara dan berusaha mengatasi permasalahan yang ada.
  • Mengirim pesan tak terlihat: “Saya menghargai interaksi kita, dan menghargai apa yang kamu katakan.”

The Apathetic Avoider (Penghindar yang Apatis / Cuek)

  • Mengabaikan kehadiran lawan bicara dan mengabaikan kesempatannya untuk berbicara.
  • Hening terlalu lama sebelum akhirnya merespon; nyaris tidak merespon atau bahkan tidak merespon sama sekali.
  • Menginterupsi atau menyisipkan pendapatnya sendiri ketika lawan bicara sedang berbicara.
  • Teralihkan ketika bekerja atau berbicara dengan orang lain; Mengekspresikannya dengan gerakan tubuh, misalnya kaki mengetuk-ngetuk lantai.
  • Menyampaikan sesuatu secara apatis, terpisah, atau terganggu.
  • Berbicara ketika lawan bicara sedang berbicara, atau terus berbicara dalam jangka waktu yang lama tanpa mendengarkan.
  • Tidak ‘mencerminkan’ perasaan lawan bicara; menggunakan bahasa tubuh yang tidak konsisten dengan apa yang dikatakan lawan bicara.
  • Berbalik, berpaling, atau berjalan pergi.
  • Menghindari hubungan baik dengan lawan bicara.
  • Kadang mengalami cukup kegelisahan ketika mencoba berhubungan baik dengan orang lain.
  • Mengirim pesan tak terlihat: “Saya tidak mau menjalin hubungan baik dengan kamu, dan tidak mau susah payah untuk itu.”

The Junior Therapist (Ahli Therapi Amatiran)

  • Mengambil posisi satu level ke atas; berasumsi bahwa dia lebih mengerti atau lebih bisa berbicara mewakili lawan bicaranya.
  • Berbicara kepada lawan bicara, tentang perasaan, pemikiran, dan tindakan lawan bicara, seolah-olah dia lebih paham.
  • Mengatakan kepada lawan bicara bagaimana seharusnya dia merasakan, berpikir atau bertindak.
  • Mengkritik lawan bicaranya atas apa yang dirasakannya, apa yang dipikirkannya, dan apa yang dilakukannya.
  • Memutuskan bagaimana seharusnya lawan bicaranya bertindak/berpikir. Lalu hanya merespon ketika lawan bicaranya tersebut bertindak sesuai dengan persepsi itu.
  • Mengatakan kepada lawan bicara bahwa sarannya itu demi kebaikan lawan bicaranya.
  • Menggunakan sedikit pengetahuan sebelumnya mengenai lawan bicaranya, dengan cara amatir. Seolah-olah ‘menganalisis’ kenapa lawan bicaranya bisa memiliki perasaan, berpikir, atau bertindak seperti itu. Dan menggunakannya untuk mendukung argumennya.
  • Menggunakan sedikit pengetahuan tentang lawan bicaranya untuk mendistorsi cara pandang lawan bicaranya. Seringkali untuk mendukung argumennya sendiri supaya ‘menang’ dalam percakapan.
  • Mengirim pesan tak terlihat: “Saya tahu tentang kamu, lebih baik dari diri kamu sendiri.”

The Bulldozer (Buldozer)

  • Fokus kepada topiknya sendiri dan mengabaikan topik yang dibawa oleh lawan bicara.
  • Berpindah dari topik lawan bicara ke topik yang dia suka; mendominasi pembicaraan.
  • Mengulang hal yang sama, berulang kali.
  • Kadang berbicara terlalu keras, membentak atau berteriak.
  • Berinteraksi dengan gaya agresif. Menyerang, menyalahkan, mengkritik, meremehkan, mengintimidasi, atau menghina lawan bicara.
  • Kadang memanggil nama, menggunakan sarkasme, atau nada merendahkan, dalam rangka meruntuhkan rasa percaya diri atau pendapat lawan bicara. Dengan tujuan, pastinya, untuk memenangi pembicaraan, dan mengalahkan lawan bicara.
  • Berusaha untuk membuat lawan bicara terlihat tidak kompeten, lebih rendah, bodoh, atau kekanak-kanakan. Dan berusaha meyakinkan bahwa lawan bicara tidak memiliki kualitas dan kapasitas seperti apa yang dia miliki (menurut persepsi dia).
  • Kadang menggunakan gestur yang kasar atau mengintimidasi.
  • Mengirim pesan tak terlihat: “Saya akan melakukan apapun demi tujuan saya”.

The Hider (Penyembunyi)

  • Berbicara terlalu pelan sampai tidak terdengar oleh lawan bicara.
  • Menggunakan kalimat yang tidak lengkap, tidak kongruen, tidak jelas, paradoksal, atau ambigu. Bisa jadi berbicara banyak, tapi tidak ada isinya.
  • Menggunakan kata keterangan yang kontradiktif, berlebihan, atau kata yang tidak jelas.
  • Menarik diri dari pendengar; bahasa tubuh menunjukkan ketakutan atau kebingungan.
  • Tidak merespon terhadap pertanyaan pribadi atau menjawab sangat sedikit. Seringkali “bersembunyi” di dalam suatu diskusi kelompok.
  • Bahasa tubuh, nada bicara, dan pesan yang disampaikan, tidak kongruen atau ngga match. Ini karena dia sering berusaha untuk berpura-pura bahwa dia tidak sedang ‘bersembunyi’.
  • Terlihat takut untuk didengar, dikritisi, atau ditentang. Karena menganggap dia akan ‘kalah’ dan lebih memilih untuk pergi atau tidak melanjutkan pembicaraan.
  • Mengirim pesan tak terlihat: “Saya takut kepada kamu dan saya tidak mau kamu mengenal saya.”

Hehe… menarik ya.
Yuk kita coba muhasabah diri sendiri. Dominan ke arah mana gaya komunikasi kita? Dan mari kita berusaha sebisa mungkin untuk terus bergeser ke arah Asertif.

Ditulis oleh: Eka Pratama

Referensi:
A Handbook for Classroom Management that Works, oleh Robert J. Marzano et al.
• EDU104 – Classroom Management Course, Islamic Online University.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.