Dua Jenis Orang yang Tidak Pernah Kenyang

Ada 2 jenis orang yang tidak pernah kenyang:

  1. Thaalib ud-dunyaa طالب الدنيا , para pencari dunia, yaitu mereka yang rakus akan dunia, dan tidak pernah kenyang dengannya,
  2. Dan thaalib ul-‘ilmi طالب العلم , para pencari ilmu, yaitu mereka yang rakus akan ilmu, dan tidak pernah kenyang dengannya.

Kita pastinya melihat, bagaimana orang-orang yang ambisinya dunia. Siang, malam, banting tulang, berangkat kerja sebelum matahari terbit, pulang setelah matahari terbenam. Bahkan sampai meninggalkan ibadah wajib. Demi apa?

Gaji yang lebih gede, karir yang lebih oke, mobil yang lebih kece, gaya hidup yang lebih hype, you name it.

Dan akan selalu ada barang-barang model baru, film terbaru, game terbaru, tempat liburan terbaru, fesyen terbaru, dan gaya hidup yang lebih kekinian. Ngga akan ada habisnya. Ngga akan pernah kenyang.

Rasulullah sallallaahu ‘alayhi wasallam mengatakan, sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas,

مَنْهُومَانِ لاَ يَشْبَعَانِ : طَالِبُ عِلْمٍ وَطَالِبُ دُنْيَا

“Ada dua orang yang begitu rakus dan tidak pernah merasa kenyang: (1) penuntut ilmu (agama) dan (2) pencari dunia.”
(HR. Al Hakim dalam Al Mustadrok 1: 92. Dishahihkan oleh Al Hakim dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi).

Sebagaimana tidak pernah kenyangnya pencari dunia terhadap dunianya, begitu pula lah penuntut ilmu terhadap ilmunya. Tidak pernah kenyang.

Sebagaimana para pendahulu kita yang shalih. Para penuntut ilmu sejati.

Sebagaimana Az-Zubaidi rela tidur di kandang ternak gurunya Abu Ali, agar bisa cepat bertemu dan mengambil ilmu darinya.

Sebagaimana Ja’far bin Durustuwaih yang sudah duduk di majelis kajian Ali bin Al-Madini, dari waktu shalat Ashar, untuk kajian yang diadakan besok paginya, karena takut tidak mendapatkan tempat.

Sebagaimana Imam Asy-Syafi’i, ketika ditanya, “Bagaimana kerakusan anda terhadap ilmu?”. Beliau menjawab, “Seperti rakusnya seorang penimbun harta, yang mencapai kepuasan dengan hartanya”. “Lalu bagaimana anda mencarinya?”. Beliau lalu menjawab, “Sebagaimana seorang ibu mencari anaknya yang hilang, yang ia tidak memiliki anak selain dia”.

Sebagaimana Imam Baqi bin Makhlad yang rela melakukan perjalanan menuntut ilmu dari Mesir ke Syam, yang membutuhkan waktu 14 tahun, dan dari Hijaz ke Baghdad, yang membutuhkan waktu 20 tahun.

Sebagaimana Khalaf bin Hisyam Al-Asadi yang rela mengeluarkan 80 ribu dirham, agar bisa menguasai satu bab di kitab Nahwu.

Maasyaa Allaah…
Lalu bagaimana dengan kita, sahabat?
Bagaimana dengan kita?

Ditulis oleh: Eka Pratama

Berdasarkan kajian Kitab Tadzkirat us-Saami’ wal Mutakallim fii Adab il-‘Aalim wal Muta’allim, oleh Ustadz Nuzul Dzikri

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.