Sense of Purpose

Image by M. Maggs from Pixabay

Waktu masih jadi engineer, kepuasan hidup saya dapatkan, ketika menyelesaikan suatu project kompleks, dan project itu ternyata bisa menambah profit perusahaan ribuan dolar per harinya. Ketika itu ada semacam rasa puas. Sense that I’m a useful person. Bahwa saya orang yang berguna, yang bisa memberikan manfaat.

Tapi ternyata rasa puas itu ngga ada apa-apanya ketimbang yang satu ini:

Qadarullaah baru-baru ini kami menempati lingkungan baru. Masih di sekitar rumah orang tua pastinya. Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan. Kisah saya ini adalah tentang Akang Petugas Kebersihan yang ada di lingkungan kami yang baru itu.

Akang yang beberapa kali setiap minggu, secara rutin datang membawa sampah-sampah dari lingkungan kami. Di awal-awal saya melihat, Akang ini memang terlihat agak aneh. Setiap bertemu ketika saya menyerahkan plastik sampah, tidak pernah tersenyum. Walaupun saya sudah ramah dan tersenyum. Beberapa kali saya ajak bicara pun ngga menjawab.

Ketika kadang berbicara pun tidak jelas apa yang Akang ini ucapkan. Belakangan saya baru paham, bahwa Akang ini mungkin memang memiliki keterbatasan kemampuan berbicara dan mengekspresikan wajah. Pahamlah saya mengapa Akang ini ngga pernah tersenyum. Muncul rasa iba di setiap Akang ini datang mengambil sampah kami.

Hingga pagi ini. Ketika Akang ini datang dengan gerobaknya seperti biasa, beliau terdengar sedang berbicara di depan rumah sebelah. Saya kurang memahami apa yang diucapkan. Sampai akhirnya beliau di depan rumah sambil mengambil sampah rumah kami.

“Aya kompa? (Ada pompa?)”, akhirnya saya paham gumaman si Akang.

“Oh, aya sakedap Kang (Oh ada sebentar Kang)”, saya buru-buru ambil pompa ban yang saya punya di rumah.

Ternyata gerobak Akang ini bannya kempes. Dan saya ngga bisa membayangkan betapa beratnya menarik gerobak sampah beserta isinya dengan kondisi ban seperti itu 😢

Waktu beliau mau ngambil pompanya, langsung saya tancapkan sendiri selang pompanya. Lalu saya pompakan. Si Akang terlihat kikuk, tapi saya ngga berhenti sampai ban gerobaknya bertekanan lagi.

Setelah selesai, beliau bergumam “Hatur nuhun A (Terima kasih mas)”, sambil tersenyum.

Mendengar ucapan itu,
dan melihat senyuman itu,
meskipun dengan gumaman yang kurang jelas dan ekspresi wajah yang agak aneh,
adalah kepuasan hidup dan sense of purpose yang LUAR BIASA.

Dan kepuasan menghasilkan profit ribuan dolar, rasanya ngga ada apa-apanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.