Seseorang Diukur dari Dua Hal Miliknya

Ada sepenggal kisah menarik, yang terjadi di masa Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul Aziz rahimahullah, seorang khalifah di masa Umayyah yang mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan namanya. Seorang pemimpin yang begitu dikenal dengan keadilannya.

Ketika beliau diangkat menjadi khalifah, datanglah delegasi dari berbagai wilayah. Dan salah satunya adalah delegasi dari Hijaz. Perlu diketahui bahwa sebelum menjadi khalifah, ‘Umar bin ‘Abdul Aziz sempat menjabat sebagai gubernur Hijaz.

Yang menarik, di antara delegasi dari Hijaz ini, ada seorang anak laki-laki. Ternyata anak ini maju ke hadapan ‘Umar bin ‘Abdul Aziz, meminta izin untuk berbicara. Lalu ‘Umar berkata kepadanya,

يَا غُلَامُ لِيَتَكَلَّمْ مَنْ هُوَ أَسَنُّ مِنْكَ
Wahai anak laki-laki, biarkanlah seseorang yang lebih tua darimu, yang berbicara.

Lalu anak tersebut berkata,

يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ إِنَّمَا المَرْءُ بِأَصْغَرَيْهِ: قَلْبِهِ وَلِسَانِهِ، فَإِذَا مَنَحَ اللهُ الإِنْسَانَ لِسَاناً نَاطِقاً، وَقَلْباً حَافِظاً، فَقَد اسْتَحَقَّ الكَلَامَ، وَلَوْ أَنَّ الأَمَرَ بِالسِّنِّ لَكَانَ هَاهُنَا مَنْ هُوَ أحَقُّ بِمَجْلِسِكَ مِنْكَ.
Wahai amirul mu’minin, seseorang hanya diukur dari dua hal terkecil miliknya. Hatinya, dan lisannya. Ketika Allah menganugerahi seseorang dengan lisan yang pandai berbicara, dan hati yang terjaga, maka dia sudah layak untuk berbicara. Kalau saja ini tentang usia, maka tentu saja di majlis ini ada yang lebih layak dari engkau.

‘Umar sangat terkesima dengan perkataan anak tersebut. Lalu beliau mengucapkan sebuah sya’ir:

تَعَلَّمْ فَلَيْسَ المَرْءُ يُولَدُ عَالِماً وَلَيْسَ أَخُو عِلْمٍ كَمَنْ هُوَ جَاهِل
Belajarlah! Karena tak ada seseorang yang tiba-tiba terlahir sebagai ahli ilmu. Dan seseorang yang bersaudara dengan ilmu, tidaklah seperti orang yang bersikap masa bodoh dengannya.

وَإِنَّ كَبِيرَ القَوْمِ لَا عِلْمَ عِنْدَهُ صَغِيرٌ إذَا التَفَّتْ عَلَيْهِ المَحَافِلُ
Dan kebesaran suatu bangsa, yang tidak memiliki ilmu bersamanya, sungguh amat kecil, ketika pertemuan-pertemuan mengepungnya.

Lalu sang anak berkata,

نَحْنُ وَفْدُ التَّهْنِئَةِ، وَلَمْ تُقْدِمْنَا رَغْبَةٌ وَلَا رَهْبَةٌ، لأنَّا قَدْ أَمِنَّا فِي أَيَّامِكَ مَا خِفْنَا، وَأدْرَكْنَا مَا طَلَبْنَا.
Kami adalah delegasi ucapan selamat. Kami tidak datang karena kebutuhan ataupun rasa takut. Karena kami benar-benar merasa aman di masa-masa engkau memerintah kami. Kami tidak merasa takut. Dan kami menyadari apa yang kami minta.

Sungguh sebuah kisah yang sangat lezat di hati.

Hati yang sudah lelah dengan kebodohan dan ketidakadilan yang terus datang di sekelilingnya.

Kisah ini diambil dari, Kitaab-un Nahwi al Mustawa ats-tsaalits, Jaami’at-ul Imaam Muhammad ibn Su’uud al Islaamiyyah. Dan kitab ini mengambil dari Kitaab Zahr-ul Aadaab watsamar-ul Albaab, al Hushri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.