Untuk Apa Saya Ada di Sini?

Banyak yang menanyakan pertanyaan ini di suatu titik dalam hidupnya. Termasuk saya beberapa tahun yang lalu. Why am I here? What am I doing? What is the purpose of this life? Kenapa sih saya ada di sini? Saya sebenernya lagi ngapain di dunia ini? Apa sih yang saya kejar? Apa sih sebenernya tujuan hidup ini?

Dunia Barat cenderung melihat, bahwa Purpose of Life (tujuan hidup) yang ideal bagi seseorang adalah suatu area dimana kita bisa melakukan 4 hal ini secara bersamaan:

  1. Apa yang kita suka
  2. Apa yang kita punya bakat / jago di situ
  3. Sesuatu yang kita bisa dibayar di situ
  4. Sesuatu yang dunia butuhkan

Sehingga kalo divisualisasikan dengan menggunakan Venn Diagram, maka akan terlihat sebagai irisan dari 4 buah lingkaran, seperti yang bisa dilihat di gambar ilustrasi.

Seseorang yang melakukan suatu hal yang dunia butuhkan, dan dia bisa mendapatkan bayaran di situ, maka itulah PEKERJAAN. Meskipun belum tentu dia suka dengan pekerjaannya. Dan belum tentu punya bakat atau jago dalam mengerjakannya.

Seseorang yang bisa dapet penghasilan, dari apa yang dia punya bakat di situ, dia jago dalam hal itu, maka itulah PROFESI. Meskipun belum tentu dia suka dan enjoy mengerjakannya. Dan belum tentu itu adalah sesuatu yang dunia butuhkan.

Seseorang yang melakukan suatu hal yang dunia butuhkan, dan itu adalah sesuatu yang dia cintai, maka itulah MISI. Meskipun belum tentu dia dibayar di situ. Dan belum tentu juga dia jago di situ.

Seseorang yang melakukan apa yang dia suka, dan dia punya bakat di sana, maka itulah PASSION. Meskipun dia belum tentu bisa mendapatkan penghasilan. Dan belum tentu juga dunia membutuhkan.

Sekarang gimana kalo seseorang mampu menemukan area, dimana 3 lingkaran bisa ketemu?

Dimulai dengan area A, dimana seseorang bisa melakukan apa yang dia berbakat di situ, dia bisa dapet gaji besar di situ, dan dunia juga membutuhkan. Tapi dia ngga suka dengan profesi / pekerjaannya. Maka yang sering terjadi adalah, dia mungkin merasa nyaman di sana. Dia enjoy dengan comfort zone nya. Tapi sering merasa hampa, dan kosong.

Lalu area B, dimana seseorang bisa melakukan apa yang dia suka, dan juga sesuatu yang dunia butuh, dan dibayar lagi. Maka most likely dia akan antusias dan puas. Tapi mungkin merasakan ketidakpastian, karena dia sebenernya punya bakat dan pinter dalam hal yang lain.

Gimana dengan area C? Ini nih… Ini yang juga sering terjadi. Dimana seseorang bisa melakukan apa yang dia suka, dia punya bakat di situ, dia jago di situ, dan dibutuhkan pula sama dunia. Tapi di situ dia ngga dibayar, atau ngga boleh dibayar. Jadi, meskipun senang dan puas, tapi ngga punya uang.

Terakhir area D. Dia suka apa yang dia lakukan, dia punya bakat di situ, dan dibayar pula. Tapi dunia ngga butuh. Jadinya dia mungkin merasa puas, tapi sering merasa ngga berguna.

Sehingga seseorang yang bisa menemukan area E, bisa mendapatkan keempat lingkaran itu semua, maka sempurna lah. Itulah purpose of life. Tujuan hidup kita.

But is it? Apa iya area E itulah tujuan hidup kita dan sesuatu yang kita kejar mati-matian dalam hidup kita?

Karena meskipun cara pandang ini, diagram ini, mengandung beberapa elemen kebenaran di dalamnya, namun mengabaikan satu lingkaran lain, yang super besar, yang bernama آخِرَة . ĀKHIRAH.

Seakan-akan hidup kita ini hanya sekolah, kuliah, kerja lalu menikah. Punya anak lalu anak sekolah. Punya kendaraan dan rumah, lalu anak menikah. Pensiun, punya cucu, menikmati masa tua, meninggal, lalu sudah? The end, tamat, tidak ada lagi kehidupan sesudah itu, tidak ada pertanggungjawaban setelah itu, YOLO, you only live once, kamu cuma hidup sekali, begitu kah?

Padahal kelak, kita akan dibangkitkan pada suatu Hari, dimana pecinta dunia, menggigit jarinya. Yā laytanī-ttakhadztu ma’a-rrasūli sabīlā, yā waylatā laytanī lam attakhidz fulānan khalīlā.Seandainya saja dulu aku mengambil jalan bersama Rasul. Celakalah aku! Seandainya dulu aku tidak berteman dekat dengan orang itu.

Padahal seorang mu’min yang membaca Al-Qur’an, pastilah sering bertemu dengan ayat ini:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
(Adz-Dzāriyāt 51:56)

Dan tidaklah Allah menciptakan kita, kecuali untuk: liya’budūn لِيَعْبُدُون. Untuk ‘ibādah عِبَادَة . Itulah tujuan hidup seorang mu’min. Menjadi ‘Abd عَبْد . Menjadi hamba sahaya. Slave.

Whose slave? Hamba sahayanya siapa?
Rabb-nya, his Master. Master of the skies and the earth. Rabb Yang Memiliki langit dan bumi. Allah ‘azzawajalla.

Beribadah hanya kepada-Nya. Menghambakan diri hanya kepada-Nya. Taat semua perintah-Nya, dan utusan-Nya. Bersusah payah, berjuang, untuk mencapai ridha-Nya. Memohon ampunan-Nya, ketika terjatuh dalam kesalahan dan dosa. Bersegera kembali kepada-Nya. Memohon pertolongan-Nya.

Karena hanya dengan itulah, kita bisa mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kedamaian yang sesungguhnya. Kelak di jannah-Nya.

Sehingga seorang mu’min, bisa saja berada di area yang mungkin dia ngga suka, dia ngga berbakat di situ, dan ngga dibayar di situ, tapi di situ ada ketaatan, di situ ada ridha Allah, maka dia kerjakan.

Sehingga apapun yang Allah telah berikan kepadanya, apapun yang dimudahkan baginya, baik itu bakat, kepintaran, dan kemudahan, dia akan gunakan untuk kebaikan agama-Nya.

Sehingga ketika mencari nafkah pun, bukan besarnya gaji yang menjadi patokannya. Tapi suatu tempat, yang di situ ada ridha-Nya.

Sehingga dia akan berjuang pada suatu area, bersusah payah mempelajari sesuatu yang mungkin dia tidak menyukainya, berkali-kali gagal karena mungkin bukan bidangnya, berkali-kali mungkin dia jatuh, tapi tetap dia akan bangun lagi, lagi…, dan lagi. Demi ketaatan kepada-Nya.

Sehingga seringkali Allah munculkan bakat. Allah munculkan potensi dan kemampuan. Yang selama ini mungkin dia tak pernah menyangka memilikinya.

Sehingga dia bisa berada di area tertentu pada suatu waktu, dan berada di area lain pada waktu yang lain.

Dan itu bukan karena dia sedang mengejar apa yang dia suka. Bukan sedang mengejar passion nya. Bukan sedang mengejar penghasilannya. Tapi, ridha-Nya.

Sehingga seringkali dunia datang mengemis dengan hina kepadanya.

Seperti dalam sabda Rasulullah ﷺ:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.
(HR Imam Ahmad, shahih)

Ditulis oleh: Eka Pratama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.