Tiga Jenis Jiwa Manusia

Di dalam Al-Qur’an, Allah subhānahu wata’ālā menyebutkan beberapa jenis jiwa manusia:

  1. An-Nafsul Muthma’innah (jiwa yang tenang)
  2. An-Nafsul Lawwāmah (jiwa yang suka mencela)
  3. An-Nafsul Ammāratu bis-Sū’ (jiwa yang selalu memerintahkan kepada kejelekan)

Bagi yang hafal Surah Al-Fajr, pastilah familiar dengan ayat-ayat dahsyat, yang mengisahkan suatu Hari, ketika Rabb kita, datang beserta para malaikat yang bershaf-shaf. Hari ketika Jahannam didatangkan. Hari ketika manusia akhirnya tersadar. Tapi sudah tak berguna lagi dia tersadar.

Yaqūlu yā laytanī qaddamtu lihayātī. “Seandainya saja dulu aku berbuat baik.”

“Seandainya saja dulu aku lebih banyak berbuat kebaikan untuk hidupku yang kekal ini.”

Lalu di bagian akhir Sūrah, Allah memanggil jiwa yang tenang:

Yā ayyatuhannafsul-muthma’innah. Irji’ī ilā rabbiki rādhiyatam mardhiyyah. Fadkhulī fī ‘ibādī wadkhulī jannatī. Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

Memiliki An-Nafsul Muthma’innah, itulah cita-cita kita.


Apabila jiwa telah tenang menuju Allah, merasa tenang dengan berdzikir kepada-Nya, kembali kepada-Nya, merasa rindu akan perjumpaan dengan-Nya dan melupakan orang terdekatnya, maka jiwa tersebut dalam keadaan tenang (muthma’innah).

Qatadah rahimahullāh berkata, “An-Nafsul Muthma’innah yaitu seorang mu’min yang jiwanya merasa tenang terhadap apa yang dijanjikan Allah.

Pemilik jiwa tersebut merasa tenang ketika mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah ‘azzawajalla sesuai dengan yang Allah beritakan mengenai dirinya (melalui Al-Qur’an), atau melalui Rasul-Nya. Ia juga merasa tenang ketika mempercayai hal-hal yang akan terjadi setelah kematian seperti adanya alam barzakh dan apa yang akan terjadi setelahnya, yang akan terjadi pada hari kiamat, sehingga membuatnya seakan-akan menyaksikannya secara langsung dengan matanya.

Ia juga merasa tentram dan tenang ketika menerima takdir Allah subhānahu wata’ālā. Ia mau menerima dengan ridha dan tidak benci terhadap takdir tersebut. Ia tidak mengeluh dan tidak terganggu keimanannya. Ia tidak berputus asa terhadap musibah yang menimpanya dan tidak sombong atas apa yang telah ia dapatkan. Karena pada hakikatnya musibah sudah ditentukan jauh sebelum ia datang kepadanya dan sebelum ia diciptakan.

Allah ta’āla berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun 64:11)

Beberapa ulama salaf berkata: “Orang yang hatinya diberi petunjuk adalah seorang yang ditimpa musibah, ia mengetahui bahwa musibah tersebut datang dari Allah, kemudian ia ridha dan menerima musibah tersebut.

Al-Bahrurrā’iq fizzuhdi warraqā’iq, Zuhud dan Kelembutan Hati, Dr. Ahmad Farid, hal. 210-211.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.