An-Nafsul Muthma’innah

Ketika seseorang sudah merasa tenang dari keraguan menjadi yakin, dari lalai menjadi mawas diri, dari khianat menjadi taubat, dari riya’ menjadi ikhlas, dari bodoh menjadi berilmu, dari berdusta menjadi jujur, dari lemah (akal) menjadi cerdas, maka dalam keadaan itu berarti nafs-nya sudah muth’mainnah (tenang).

Dalam keadaan sadar seperti itu ia dapat melihat apa yang diciptakan baginya, dan apa yang akan ia temui ketika ia mati saat memasuki alam akhirat. Ia juga melihat cepatnya dunia berakhir, sedikitnya kesetiaan yang dimiliki dunia bagi anak-anaknya, sedikitnya kesetiaan dunia terhadap orang-orang yang rindu terhadapnya, dan apa yang dilakukan dunia terhadap mereka dari berbagai contohnya. Maka jiwa pun akan bangkit pada saat itu sebagaimana yang diceritakan keinginannya tersebut dalam firman Allah:

يَٰحَسْرَتَىٰ عَلَىٰ مَا فَرَّطتُ فِى جَنۢبِ ٱللَّهِ
Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah.
(Az-Zumar 39:56)

Maka ia menghadapi sisa umurnya untuk mengejar apa yang telah hilang dan menghidupkan apa yang telah ia matikan. Menghadapi sesuatu yang menjadi sandungan baginya. Mengejar kesempatan yang apabila hilang, maka hilanglah seluruh kebaikan.

Kemudian dalam keadaan sadar itu ia juga memperhatikan nikmat Rabb yang diberikan kepadanya. Ia melihat bahwa ia telah lalai untuk menghitung nikmat tersebut. Ia lemah untuk mengerjakan kewajibannya. Ketika itu pula ia melihat banyak kekurangan yang ada di dalam dirinya, kekurangan yang ada di dalam amalnya, perbuatan buruk yang telah ia lakukan sebelumnya dan perilakunya yang meninggalkan hak-hak dan kewajibannya.

Jiwanya ingat, anggota badannya takut, ia berjalan menuju Allah dengan menundukkan kepalanya. Di dalam dirinya terdapat perasaan yang isinya kesaksian terhadap nikmat-nikmat-Nya, ingatannya terhadap perbuatan buruknya dan kesadaran akan adanya penyakit dalam dirinya.

Dalam sadarnya itu dia juga melihat kemuliaan waktu, bahaya waktu dan kegunaan waktu yang merupakan modal besar bagi kebahagiaannya. Ia pun sadar bahwa ia telah kikir dalam menggunakan waktu sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Rabbnya. Ia pun sadar bahwa menyia-nyiakan waktu akan mendatangkan kerugian dan kebinasaan. Sedangkan menjaganya akan mendatangkan keuntungan dan kebahagiaan.

Inilah dampak positif dari perasaan sadar dan apa yang bisa ditimbulkan olehnya. Perasaan sadar ini merupakan kedudukan pertama dari An-Nafsul Muthma’innah (jiwa yang tenang) yang muncul darinya serta kembalinya jiwa kepada Allah subhānahu wata’ālā dan hari akhirat.

  • Al-Bahrurrā’iq fizzuhdi warraqā’iq, Zuhud dan Kelembutan Hati, Dr. Ahmad Farid, hal. 212-213

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.