Tajrī Min Tahtihal-Anhār Bagian 3

Bayangkan jika tanah tempat kita berpijak, tak lagi hitam ataupun coklat warnanya, melainkan berupa butiran tepung putih misk murni. Dan kerikil-kerikilnya, bukanlah batu biasa, namun mutiara. Serta yāqūt, ruby, batu permata merah delima.

Lalu sungai-sungainya…
Bukanlah sungai dengan air yang payau. Namun sungai madu, susu dan khamr yang tidak memabukkan.

Senantiasa teduh…
Dengan pohon-pohon yang selalu berbuah.

Penghuninya, tidak tidur dan tidak butuh tidur.
Tak pernah merasa lelah.
Tak pernah merasa payah.
Seluruh urusan mereka adalah istirāhah.
Mereka senantiasa sibuk,
dalam kesenangan.

Ditulis oleh: Eka Pratama

Referensi:
An-Nihāyah fil-Fitan wal-Malāhim, Ibn Katsīr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.