Tajrī Min Tahtihal-Anhār Bagian 4

Dārus-salām
Land of peace, negeri kedamaian. Inilah negeri yang tak pernah lenyap. Kerajaan yang begitu besar, seluas langit dan bumi.

Para penduduknya saling bercerita, dan bernostalgia. Tentang apa yang mereka alami dulu di dunia. Tentang perjuangan, ketaatan, dan kekhilafan mereka. Dan bagaimana Allah mengampuni mereka. Serta menyelamatkan mereka, dari teman-teman buruk, yang hampir saja mencelakakan mereka, dan menyeret mereka ke neraka.

Mereka bertanya-tanya,
Afamā nahnu bimayyitīn. Illā mawtatanal-ūlā wamā nahnu bimu’addzabīn. “Benarkah kita tidak akan mati lagi? Dan benarkah kita tidak akan disiksa lagi?”
Seolah-olah tak percaya, dengan kemenangan yang begitu besar yang telah diraihnya.

Sebuah kemenangan agung, the ultimate success and victory, yang jika kita mengingatnya, maka lenyaplah segala keluh kesah. Hilanglah segala kekhawatiran dan rasa gundah, di tengah kesulitan dan ujian, yang mungkin sedang menerpa kita di dunia.

Lalu Allāh ganti kekhawatiran itu dengan kerinduan.
Kerinduan akan kampung halaman.

Sebuah negeri yang kita diperintahkan untuk berpindah ke sana. Berlomba-lomba membawa bekal terbaik, yang kelak kita persembahkan di hadapan-Nya.

Ditulis oleh: Eka Pratama

Referensi:
An-Nihāyah fil-Fitan wal-Malāhim, Ibn Katsīr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.